Risalah dari Syeikh Dr Muhammad Mahdi Akif, Mursyid Am Ikhwanul Muslimin
Ramadhan; bekal untuk berubah dan amunisi menuju kemenangan
Betapa agungnya bulan ramadhan yang mulia ini!! Betapa besar pengaruh dan dampak positif yang dapat diterima oleh setiap jiwa umat Islam; menuju peningkatan ruhi diatas materi dan menghubungkannya dengan sang pencipta dan memperkokoh ikatan dengan Zat yang memiliki dan mengusai kerajaan langit dan bumi.. maka dari itu pada bulan ramadhan yang penuh berkah ini, umat Islam mendapatkan kenikmatan melalui shiyam (puasa), qiyam, tilawah Qur’an dan pendekatan diri kepada Allah pada saat I’tikaf… dan kesemu itu merupakan sarana tarqiyah (peningkatan) diri seorang muslim.
1. Puasa dan kekuatan kehendak
Pada ibadah puasa terdapat pengokohan kehendak dan pembinaan akan kesabaran; melalui pencegahan diri dari makan, minum dan hal-hal yang dapat membatalkan walaupun tidak ada yang mengawasinya kecuali Allah, tidak ada yang mengetahui kecuali dirinya, tidak ada yang mengiringinya kecuali hatinya, dan tidak yang disandarkan kecuali kehendaknya yang kuat dan penuh kesedaran.
Kerana itulah bulan ramadhan disebut dengan bulan kesabaran, seperti yang disebutkan dari Abu Hurairah ra berkata; Rasulullah saw bersabda:
“Setiap sesuatu pasti ada zakatnya, dan zakat tubuh adalah puasa, dan puasa adalah bahagian dari kesabaran”. (Ibnu Majah)
Puasa dengan apa yang ada di dalamnya; kesabaran dan pengekangan jiwa; merupakan inti sarana Islam dalam mempersiapkan seorang muslim untuk teguh dan sabar, memiliki ikatan (komitmen) yang kuat dan menjadi mujahid yang tangguh; yang siap dan mampu menahan kondisi miskin, lapar dan hidup sederhana, siap berada dalam kondisi keras (perang), sengsara dan kerasnya kehidupan, kerana barangsiapa yang mampu memenangkan jiwanya maka terhadap yang lainnya juga akan mampu dihadapi, dan barangsiapa yang mampu sabar dalam kondisi lapar dan haus maka pada saat dikepung oleh musuh dan segala cobaan hidup lain yang lebih keras darinya akan lebih mampu dihadapi.
Dan begitu pula tidak akan mampu menuntut kemerdekaan dan kembalinya hak-hak yang hilang dan tegar berdiri dihadapan para durjanan yang diktator kecuali bagi orang-orang yang memiliki bekal keimanan yang kokoh, azimah yang kuat , semangat yang tinggi; sehingga membuat dirinya tidak akan pernah takut dengan berbagai kezhaliman yang dialami, tidak akan berputus asa sekalipun jalan menuju kemenangan begitu panjang, tidak merasa lemah dan merasa hina dari berbagai hambatan dan kesulitan yang dihadapan, bahkan keteguhan dengan haknya terus meningkat dan perasaannya akan kemuliaan jiwa yang terus menguat:
“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, Padahal kamulah orang-orang yang paling Tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman”. (Ali Imran:139)
Dan firman Allah:
“Janganlah kamu lemah dan minta damai Padahal kamulah yang di atas dan Allah pun bersamamu dan Dia sekali-kali tidak akan mengurangi pahala amal-amalmu”. (Muhammad:35)
2. I’tikaf merupakan sarana peningkatan diri dekat dengan Allah
Pada bulan Ramadhan disunnahkan melakukan I’tikaf; yang merupakan pembentuk jiwa yang sangat penting sekali, bahagian dari berkhalwah dengan Allah, di dalamnya para pencari kebaiakan dan perbaikan bersemangat untuk mengishlah (memperbaiki) hati-hati mereka, melalui pemutusan langsung yang disertai penerimaan secara total akan kewajiban shalat, tilawah Qur’an, dzikir dan meninggalkan berbagai kesibukan, ucapan yang tiada guna, makan dan minum serta tidur. Demikianlah kehidupan Rasulullah saw; dari Abu Hurairah ra berkata:
“Bahawa Nabi saw beri’tikaf pada setiap bulan Ramadhan di sepuluh hari terakhir, dan pada saat tahun terakhir hidup beliau beliau beri’tikaf selama 20 hari”. (Bukhari), Kerana itu barangsiapa yang mau mernerima Allah dengan hatinya dan memutuskan hubungan dengan selainnya maka Allah akan memberikan dukungan-Nya kepadanya, memberikan taufiq dan kemenangan-Nya.
3. Al-qur’an merupakan ruh (spirit) yang mengalir dalam hati sehingga mampu menghidupkannya
Imam Al-Banna berkata: telah datang bersama Ramadhan untuk manusia seorang nabi dan kitab (Al-Qur’an), yang mampu memberikan kebangkitan besar pada diri manusia seperti yang masyhur terjadi, menyempurnakan risalah terbesar seperti yang telah disaksikan oleh dunia; bahawa nabi saw, kitab Al-Qur’an Al-Karim serta risalah merupakan sarana pembentuk agama, penghidup jiwa-jiwa umat, pendiri suatu Negara, tugasnya di dunia ini adalah menyatukan dunia dibawah bendera prinsip kemuliaan, nilai-nilai yang suci dan kebaikan-kebaikan Insan yang kekal
Supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. Allah-lah yang memiliki segala apa yang di langit dan di bumi”. (Ibrahim1-2)
Dan nabi pun telah menyampaikan risalahnya dan membacakan kitabnya kepada umat manusia, sehingga jazirah Arab tunduk kepadanya dan hancur singgasana kekaisaran! Memangkas habis naungan istanan kekaisaran, menyebar luas bendera Al-Qur’an dan prinsip-prinsipnya, pada kekuasan yang menyebar dari daratan Cina hingga dar el-baidha, dari jantung kota Perancis hingga ujung Afrika, dan umat manusiapun berbondong-bondong masuk Islam.
Namun, Kemudian apa? Kemudian runtuhlah Negara tersebut, terpangkas habis naungan yang begitu lebar dan luas, oleh kerana acuh terhadap ajaran Islam, berlomba-lomba pada singgasana dan dunia, husnudzan yang tinggi kepada Musuh dan hari-harinya yang memilukan, kemunduran mereka sepanjang zaman, waktu dan tempat, kejahilan mereka terhadap berbagai permasalahan yang terus berubah dan berkembang, sehingga agama terlupakan, umat ternina bobokan, Negara tercabik-cabik, hancur seperti kerajaan Saba, sementara umat manusia menduga bahawa permasalahannya telah selesai, dan kemuliaan ini telah hilang selamnaya, sementara orang-orang munafik dan orang-orang yang hatinya sakit:
“Allah dan Rasul-Nya sama sekali tidak memberikan janji kecuali hanya tipu belaka”. (Al-Ahzab:12)
Namun Allah swt yang Maha tinggi dan Maha Besar, pemilik risalah dan Al-Qur’an yang menjamin dan memlihara, seperti dalam ayat-Nya:
Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an dan Kami pula yang akan menjaganya”. (Al-Hijr:9),
dan berjanji akan melindungi pemiliknya :
“Sesungguhnya Allah akan membela orang-orang yang beriman”. (Al-Hajj:38),
dan disebutkan bahawa hal tersebut merupakan sunnatullah dalam ciptaannya:
“Sehingga apabila Para Rasul tidak mempunyai harapan lagi (tentang keimanan mereka) dan telah meyakini bahawa mereka telah didustakan, datanglah kepada Para Rasul itu pertolongan Kami, lalu diselamatkan orang-orang yang Kami kehendaki. dan tidak dapat ditolak siksa Kami dari pada orang-orang yang berdosa”. (Yusuf:110)
Seruan!!
Wahai umat Islam…
Merubah satu kondisi tidaklah mustahil, dihadapan kalian adalah taujih robbani (Al-Qur’an Al-Karim) yang selalu mengingatkan kalian dengannya bulan Ramadhan, kalian berbuatlah agar kalian menggapai kemenangan dan keberuntungan, dan dihadapan kalian sejarah perjalanan insan yang sempurna yang melaluinya telah menyelamatkan dunia yaitu Nabi Muhammad saw; kerana ikutilah jejak langkahnya agar kalian mendapat rahmat, dan dihadapan kalian juga ada “Ikhwanul Muslimin” yang selalu menyeru untuk kembali kepada kitabullah dan mengikuti jejak langkah sirah Rasulullah melalui kitab ini, kerana itu tidak ada alasan bagi setiap orang setelah ini akan hakikat ini.
“Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya”. (Yusuf:21)
Selawat dan salam semoga tercurah atas baginda Muhammad saw, beserta keluarganya dan para sahabatnya. Dan segala puji hanya milik Allah Tuhan semesta alam.