Risalah dari Syeikh Dr Muhammad Mahdi Akif, Mursyid Am Ikhwanul Muslimin
Bahawa dunia Islam saat ini sedang mengalami hari-hari yang memilukan, period yang terpisah jauh dengan sejarah perjalanan masa lalunya, dan pada kondisi ini, banyak terjadi apa yang direncanakan dan dialami baik pada waktu malam dan siang harinya; terutama sejak zionis berfikir untuk menjadikan bumi Palestin sebagai negara bagi mereka, dengan didukung oleh Barat, dan sejak mereka menanamkan racun dalam tubuh umat Islam sehingga ujian pun terus datang silih berganti, kerana itulah perang tidak pernah berhenti dan berlalu; (seperti tahun 1956-1967-1973, pembantaian di Lebanon pada tahun 1982, perang di Afganistan tahun 1979, penjajahan Iraq tahun 2003, perang di Lebanon 2006, dan bumi hangus Gaza tahun 2008-2009), sebagaimana diselingi akan dosa-dosa yang begitu besar adanya usaha melakukan pembakaran masjid Al-Aqsha pada waktu sebelumnya, dan berusaha untuk menghancurkannya guna mendirikan Haikal di bawah reruntuhannya.
Kemudian kejahatan lebih besar juga datang dengan adanya tekanan Amerika akan pentingnya pengakuan terhadap keberadaan Yahudi sebagai negara Zionis oleh dunia secara umum dan negara-negara Arab secara khusus… sampai mereka mengutamakan menjadikan dua Palestin dengan negara-negara kecil sebagai bentuk daerah yang tidak memiliki pemimpin dan warga terpisah.
Mereka semua berusaha membangun dan mendirikan negara Yahudi sebagai duri di tubuh Bangsa Arab dan umat Islam, dan pada waktu yang sama mereka berusaha menghapus simbol-simbol Islam dari undang-undang negara Islam. Namun ironinya, dari majoriti negara Islam yang ada, tidak berfikir untuk membangun Islam hidup kembali dengan sepenuhnya melalui nilai-nilai, akhlaq, syariat serta karakternya kecuali mereka berusaha untuk memendam dan mengubur fikrah tersebut dalam buaiannya… sekalipun zionis pergi ke kanan dan ke kiri namun tidak mendapatkan api perang yang dapat dikobarkan kecuali diatas bumi umat Islam… Palestin yang tercinta, Iraq yang terluka, Afghanistan yang terus menderita akibat parang yang tak kunjung akhir, serta Somalia yang terus bergelora.. Sudan, Pakistan, Kashmir dan lain-lainnya.
Ini baru dari satu sisi, sementara dari sisi lain kita melihat bahawa negeri-negeri Islam sedang tertimpa kegelapan (kezaliman) secara signifikan, kediktatoran yang menggejala, kebebasan yang terpasung, pemerintah yang hidup dalam kemewahan, di tengah bangsa dan umatnya yang menderita akibat kemiskinan dan kenestapaan, kebodohan yang mengakar, penyakit yang kronis, sehingga kehidupan perekonomian hancur dan projek-projek ekonomi negara seakan menjadi bahagian dari kapitalisme asing, pengangguran kian meningkat, sementara tarbiyah dan ta’lim dengan berbagai lembaga-lembaganya tidak mampu memberikan pengajaran dan pendidikan maksima, begitu pula dengan lembaga-lembaga kesihatan tidak menjadi bahagian untuk memberikan peranannya.
Ditambah pula jika kita menolehkan wajah ke bahagian lain, maka apa yang kita dapatkan; keadilan di kebiri, kemaksiatan dan kejahatan maharajalela, kemungkaran menjadi bahagian yang biasa, sementara kemuliaan dihiraukan, nilai-nilai yang murni yang menjadi bahagian dari kehidupan umat Islam hampir saja punah, dan berusaha diganti dengan nilai-nilai yang mereka buat sendiri sehingga tidak menambah kebaikan kecuali kehinaan dan kehancuran.
• ini semua menggugat kita untuk berfikir bagaimana caranya memberikan solusi yang benar dan tepat bagi negara kita?
• Bagaimana caranya mengembalikan kemuliaan kita dan menjadikan kita memiliki satu kata dalam negeri kita?
• Bahkan bagaimana caranya membentuk kesatuan umat yang tegak berdiri diatas risalah Islam, mampu menunaikan tugasnya dalam menyebarkan keadilan, rahmat, kemerdekaan dan persamaan sesama umat manusia?!
Konstitusi Global untuk melakukan perubahan
Bahawa Allah SWT telah menetapkan dalam kitab-Nya yang mulia akan konstitusi global dalam rangka melakukan perubahan; seperti dalam firman Allah:
“Sesungguhnya Allah tidak merubah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”. (Ar-Ra’ad:11)
dan Allah juga berfirman:
“Yang demikian itu adalah kerana Sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu merubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui”. (Al-Anfal:53)
Jadi titik tolak untuk melakukan suatu perubahan itu adalah diri manusia itu sendiri, kerana jika jiwa tersebut mengenal Tuhannya, baik jiwanya dan lurus pada syariat-Nya maka niscaya Allah akan memuliakannya dan memberikannya kejayaan:
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahawa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diredhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan aku. dan Barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang fasik”. (An-Nuur:55)
Namun jika jiwa berbalik dari arahnya, mengingkari syariat Tuhannya, berpecah belah menjadi berkelompok dan berparti-parti; maka kegagalan akan ditemui pada masa depannya, lemah kekuatannya dan pada selanjutnya akan hilanglah kemuliaan dan jati dirinya:
“Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”. (Al-Anfal:46)
Dan sejarah menjadi saksi akan kebenaran konstitusi ini, bahawa Arab sebelum Islam merupakan kabilah-kabilah yang terpecah belah, saling perang, saling melakukan pembunuhan, kiblat mereka terbagi pada Persia dan Romawi, namun setelah Islam datang, maka yang terpecah menjadi bersatu, yang saling membunuh dan perang menjadi baik dan saling damai, dan mereka menjadi satu umat: Allah Tuhannya, Muhammad Rasul dan nabinya, Al-Qur’an kitabnya, Kiblat arah ibadahnya, serta menjadikan mereka dalam satu barisan; baik dalam shalat dan menghadapi musuh, bahkan mampu menyatukan Arab, Persia, Romawi, Habsyah, warna kulit putih dan hitam, yang kaya dan miskin.
Tubuh yang baru ini bagi Umat Islam mampu dalam seperempat abad menyebarkan keadilannya dan rahmatnya, membersihkan manusia dari kejahatan dan kebiadaban Persia dan memberikan kepada manusia akan kebebasannya:
“Maka barangsiapa yang berkehendak, maka hendaklah beriman dan barangsiapa yang ingin silahkah ingkar” (Al-ahfi:29)
“Tidak ada paksaan dalam agama Islam”. (Al-Baqarah:256
“Dan Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka Apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya ?” (Yunus:99)
Dan jadilah kepemimpinan dan kekuasaan untuk mereka pada masa dan abad yang lama. Namun ketika hubungan mereka dengan Islam merenggang dan jauh; tampak ditengah mereka perpecahan parsialisme; oleh kerana ketamakan orang-orang yang ada didalamnya terutama mereka yang senang merampas dan menjajah, mengambil segala kekayaannya, dan pada akhirnya Al-Aqsha jatuh ke tangan-tangan mereka pada tahun 492 H, dan ketika Allah SWT berkehendak untuk mengembalikan lagi, maka diutuslah dari orang pilihan umat Islam yang mampu menyatukan antara Mesir dan Syam, dan memiliki semangat yang penuh dan hubungan yang kuat kepada Allah, seperti yang dilakukan oleh Shalahuddin Al-Ayyubi yang mampu mengembalikan Al-Quds dan masjid Al-Aqsha pada tahun 582 H ke pangkuan umat Islam.
Dan pada hari ke sepuluh dari bulan ramadhan, ketika para tentara Allah bergerak sambil mengumandangkan takbir Allah Akbar, Allah memberikan kekuatan kepada mereka untuk dapat melintasi terusan Suez dan memasuki kota Sinai.. begitupun pada perang Al-Furqan terakhir kali di Gaza juga mampu memukul mundur zionis sehingga mereka mengalami kehinaan kerana tidak mendapatkan keinginan sedikitpun..
“Dan Sunnguh Allah akan menolong orang-orang yang menolong-Nya, kerana sesungguhnya Allah Maka Kuat dan Maha Perkasa”. (Al-Hajj:40)