• Home

Info Centre :: Membina Generasi Rabbani

Feeds:
Posts
Comments

Umat Yang Satu Dalam Madrasah Ramadhan

September 5, 2009 by ismapjinfo

Risalah dari Syeikh Dr Muhammad Mahdi Akif

Bismillah dan segala puji hanya milik Allah, dan selawat dan salam atas Rasulullah saw, beserta keluarga dan para sahabatnya serta orang-orang yang mendukungnya, selanjutnya..

Ada diantara Umat Islam ketika mendapatkan kesempatan bertemu dengan bulan Ramadhan selalu menggunakan kesempatan yang berharga tersebut untuk mendapatkan kemenangan dan dua kebaikan; dunia dan akhirat, dan tidak ketinggalan untuk dapat menanamkan pelaburan terhadap apa yang telah Allah gelarkan kepada mereka menuju sebab-sebab kebaikan, kerana itu Anda akan mendapati mereka pada bulan Ramadhan yang penuh kebaikan; pada siang harinya memakmurkannya dengan puasa dan pada malam harinya dengan qiyam, berlomba menjaga waktu; berkompetisi dalam berzikir, membaca Al-Qur’an dan berbagai ketaatan lainnya, memenuhi panggilan Rasulullah saw:

“Telah datang pada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh keberkahan, di dalamnya terdapat kebaikan yang meliputi kalian kerana Allah (ada di dalamnya), maka turunlah rahmat, berguguran segala kesalahan dan dosa, di dalamnya doa dikabulkan, maka Allah melihat semangat berlomba kalian, dan para malaikat sangat dengan kalian, maka perlihatkan di hadapan Allah yang terbaik dari jiwa-jiwa kalian, kerana sesungguhnya celaka bagi siapa yang diharamkan di dalamnya rahmat Allah SWT” (Thabrani)

Dan  Ikhwanul Muslimin memberikan tahniah (ucapan selamat) kepada umat Islam yang berada di berbagai penjuru dunia di Timur dan Barat akan hadirnya bulan yang mulia ini, mengajak mereka untuk memanfaatkan darinya sebagai madrasah satu bulan menuju ketaqwaan. Kerana itu  disini saya ingin menyampaikan beberapa pelajaran, semoga dapat memberikan manfaat kepada kita:

 1. Ramadhan: bulan puasa (menahan diri) dari berbagai kemaksiatan

Para pemilik azimah yang kuat tentunya menyedari bahawa puasa merupakan tarbiyah yang sangat berharga dan mulia, ia merupakan pusat pelatihan yang lembut akan sifat kesabaran dan menahan amarah, dan bahawasanya puasa bukan hanya pada satu tujuan menahan raga dari rasa haus dan lapar belaka, namun termasuk hal-hal yang mengiringinya akan kekuatan keinginan dan kehendak, kemuliaan akhlaq dan perilaku serta kesucian jiwa, menjauhkan dominasi syahwat, mengekang jiwa  amarah bissu (selalu mengajak pada yang buruk) menuju jiwa yang muthmainnah (yang tenang); dengan pengertian bahawa puasa merupakan  penjaga dari terjerumusnya jiwa pada perbuatan maksiat, pemelihara dari hal-hal yang dapat menyakitinya; dari nafsu syahwat dan kejahatan lainnya dari berbagai ucapan dan perbuatan yang tidak layak, sekalipun orang lain memusuhinya dengan ucapan atau perbuatannya, sesuai dengan apa yang disampaikan oleh nabi saw:

 “Dan puasa adalah perisai, kerana itu jika salah seorang dari kalian berpuasa maka jangan berkata kotor dan berteriak, jika ada seseorang yang mencelanya atau mengajak berkelahi maka katakanlah saya sedang berpuasa”. (Nasa’i)

 Dan juga disebutkan dalam hadits nabi saw yang lainnya:

 “Tingkatkanlah puasa; sesungguhnya puasa bukan hanya dari menahan dari makan dan minum saja, namun ia merupakan sarana menahan diri dari maksiat, dan jika salah seorang dari kalian berpuasa, lalu ada yang mengejeknya atau mencelanya, maka cukuplah ia mengatakan: saya sedang berpuasa”. (Muttafaq alaih)

 Dan nabi saw juga bersabda:

 “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan, memahami batasan-batasannya, dan menjaga hal-hal yang harus dijaga maka akan berguguran kesalahan yang sebelumnya”. (di shahihkan oleh Ibnu Hibban).

 Dan jika tidak mencapai hal demikian maka Allah sama sekali tidak akan melihat puasanya dan tidak akan menerimanya, seperti yang disebutkan dalam hadits nabi saw:

 “Betapa banyak –atau berapa banyak dari- orang yang berpuasa, nasibnya dari puasanya hanya menahan lapar dan haus belaka, dan betapa banyak –atau berapa banyak dari- orang yang menunaikan qiyam, nasib dari qiyamnya hanyalah rasa letih saja”. (Ahmad dan dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah).

 Dan nabi saw juga bersabda:

 “Barangsiapa yang tidak mampu meninggalkan ucapan kotor dan dia melakukannya, maka Allah sama sekali tidak memerlukannya meninggalkan makan dan minumnya”. (Bukhari).

 Dan dari sini, imam Jabir bin Abdullah menasihati kita dengan ungkapannya:

 “Jika Anda berpuasa, maka hendaknya telinga, mata, lisan juga ikut berpuasa dari dusta dan hal-hal yang diharamkan, tinggalkan sesuatu yang menyakiti peribadi, dan jadikanlah dirimu teduh dan tenang pada saat berpuasa, dan jangan jadikan saat tidak berpuasa dan pada saat berpuasa dirimu sama”.

 Merenunglah bersama saya bagaimana jadinya keadaan dunia sekiranya puasa yang diinginkan Allah dapat terwujud dalam kehidupan umat manusia seluruhnya, atau pada kehidupan umat Islam itu sendiri..!!  Niscaya akan mampu membersihkan jiwa dari berbagai kotoran dan keburukannya, mencetaknya pada akhlaq yang mulia dalam melintasi jalan kehidupan selama satu tahun penuh, masanya hanya 30 hari; mampu memberikan ke dalam hari dengan bekal kesabaran, keteguhan, azam, dan kekuatan kehendak, mewujudkan akan makna dan nilai taqwa yang dijadikan oleh Allah sebagai tujuan utama pada kewajiban yang penuh berkah ini

 “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa”. (Al-Baqarah:183)

 Kerana itu, adakah yang mahu menyedari akan makna ini dari para pemilik hati yang beriman dan hidup, memintal akan perilaku para shalihin dahulu, mengisi dunia dengan cahaya, kedamaian dan keberkahan, menyebarkan di dalamnya akhlaq yang bersih dan murni, nilai-nilai kebenaran, keadilan dan persaudaraan, sehingga dapat mewujudkan akan kemenangan, kemuliaan dan kejayaan?!

 Dan apakah ada yang memperhatikan nilai-nilai ini oleh mereka yang menjadikan ghirah mereka memenangkan kebatilan, ucapan palsu, melontarkan aib kepada orang yang tidak berdosa, menekan orang-orang shalih, sehingga mereka mau menarik dan meninjau ulang perbuatan dan sikap mereka, memperbaiki langkah dan manuver mereka, membentangkan tangan mereka untuk bekerja sama dengan para mukhlisin; sehingga dapat mewujudkan kepada umat hal-hal yang layak dengannya dari berbagai kedudukan dan kemuliaan di muka bumi ini?!!

 2. Ramadhan; bulan persatuan dan gotong royong

Persatuan merupakan syiar umat ini

“Sesungguhnya umat ini (Islam) adalah umat yang satu”. (Al-Anbiya:92)

dan syariat Islam yang suci selalu mengajak umat akan persatuan dengan berbagai cara, dan jika ditinjau pada berbagai ibadah yang telah diwajibkan Allah atas hamba-hamba-Nya akan memahami dengan yakin bahawasanya kesatuan ibadah dan keikhlasan ubudiyah kerana Allah merupakan inti untuk mewujudkan persatuan umat, dan puasa memberikan peran yang sangat besar akan hal tersebut, kerana seluruhnya dimulai dari berpuasa; diawali dengan azan pada saat fajar, berbuka pada saat beduk Maghrib, seluruhnya bergerak dalam rangka menghidupkan malam harinya dengan qiyam, ditambah pula dengan tuntutan puasa dalam penyatuan perasaan dan fikrah (wawasan).

 Imam Ar-Rafi’I berkata: “puasa merupakan sarana pemaksaan diri untuk bersikap miskin yang diwajibkan atas umat manusia; guna menyamakan perasaan di perut mereka, baik orang mereka yang memiliki harta sebanyak satu juta dinar sekalipun, atau orang yang memiliki uang hanya satu qirs saja, atau juga orang yang sedikitpun tidak memiliki uang… pemaksaan diri untuk bersikap miskin yang bertujuan untuk memberikan perasaan jiwa kemanusiaan dengan cara jelas bahawa setelah kehidupan ini ada dibelakangnya kehidupan lainnya, bukan sia-sia, dan hal ini akan sempurna pada saat manusia berada dalam satu perasaan, bukan berpecah belah, saling bersimpati dan empati serta mengasihi bukan bertegang kerana mengikuti dominasi hawa nafsu yang beragam jumlahnya. Dengan inilah umat manusia diposisikan pada kondisi jiwa yang satu, jiwa yang menyatu dari penjuru timur hingga barat, menampilkan dalam satu jenis insaniyah akan kesatuan suara ruhiyah, mengajarkan akan rahmat dan menyeru kepada-Nya, sehingga dapat menebarkan dari kondisi lapar ini fikrah tertentu yaitu kebersamaan dalam kebenaran”.

 Betapa saat ini umat Islam sangat membutuhkan akan nilai-nilai yang agung ini, oleh kerana telah dicabik-cabik dari perilaku musuh dan berlimpah ruahnya kebodohan, berlimangnya tangan-tangan yang penuh dosa yang tidak pernah berhenti –sekalipun kadang mau juga menyerah walau hanya sesaat- dari menumpahkan darah  yang mulia di berbagai tempat dari tubuh-tubuh umat Islam; baik di Palestina sebagai jantung Arab dan nadi umat Islam, di Yaman tempat yang penuh iman dan hikmat, di Iraq sebagai bumi sejarah dan peradaban, di Sudan yang mulia, di Benua Afrika; Somalia, Afghanistan, Pakistan, Turkistan Timur dan lain-lainnya di berbagai tempat umat Islam yang sedang menderita.

 Kerana itulah, Ikhwanul Muslimin menjadikan bulan Ramadhan tahun ini sebagai harapan dan tanda akan munculnya cita-cita bagi umat Islam dan bagi bangsa Arab untuk saling gotong royong dan bantu membantu guna menyatukan visi dari berbagai permasalahan yang dihadapi, guna menghentikan darah yang mengalir dan mengobati luka yang menganga, mengislah perpecahan yang telah mencerai beraikan anak-anak bangsa yang berada dalam satu negeri, dan memisahkan antara anak-anak yang berada dalam satu negara dan satu umat.

 Dan Ikhwanul Muslimin juga menyeru kepada seluruh pemilik jiwa yang merdeka dan para pembuat keputusan untuk dunia Islam; untuk senantiasa berkontribusi semampunya dalam rangka melakukan perbaikan dan islah antara orang-orang dan umat yang sedang bertikai, mendekatkan lagi orang-orang yang telah berpisah dan berjauhan, bekerja keras untuk menentukan sikap Arab dan Islam yang satu demi mengembalikan umat akan  kewibawaannya, kemuliaannya dan eksistensinya dihadapan seluruh umat manusia.

 3. Ramadhan; bulan penuh cita-cita dan penghapus keputusasaan

Pada bulan yang penuh berkah ini telah banyak kemenangan-kemenangan besar dalam sejarah umat yang diraih; dimulai dari hari al-furqan, penaklukan kota Mekah, hingga kemenangan pada hari ke sepuluh pada bulan Ramadhan atas Zionis, kebebasan berkehendak umat Islam dari melepaskan rasa takut, putus asa, dan menyerah. Hal ini diketahui oleh kerana adanya kesabaran sebagai hasil dari puasa, dan bahawasanya kesabaran merupakan kunci kesuksesan, dan seiring dengan kesulitan ada dua kemudahan: Allah SWT menurunkan atas nabi-Nya di kota Mekah:

 “Golongan itu pasti akan dikalahkan dan mereka akan mundur ke belakang”. (Al-Qomar:45) maka Umar bin Khattab bertanya kepada Rasulullah: Wahai Rasul apa yang dimaksud dengan golongan itu? hal itu sebelum Badr, nabi saw bersabda: maka ketika terjadi pada hari Badr dan Quraisy mampu dikalahkan, saya melihat ke Rasulullah saw pada bekas-bekas mereka terhunus dengan pedang, maka dia berkata: “Golongan itu pasti akan dikalahkan dan mereka akan mundur ke belakang”., dan pada saat itu adalah terjadi perang Badar.

 Sekumpulan orang-orang Quraisy tidak pernah menduga jika kelompok mereka akan mundur kebelakang, dan Mekah Al-Mukarramah akan di taklukkan oleh para Muhajirin dan Anshar, dan bahawasanya kalimat (agama) Allah akan naik menjadi tinggi dan mulia setelah nabi saw bersembunyi di Gua, namun orang-orang beriman yang setia terus menunggu akan realisasi dan perwujudan janji-janji Allah berupa kemenangan; meyakini akan realisasi semua itu setelah nabi saw berkata:

 “Sungguh agama ini akan sampai sebagai sampainya malam dan siang, sehingga masuk ke Baitul Madar, sehingga Allah memuliakan Islam dengannya dan menghinakan kekufuran”. (Thabrani)

 Sebagaimana kebanyakan dari kaum Salib tidak menyangka bahawa mereka akan keluar dari Syam, kemudian keluar dari Baitul Maqdis, setelah mereka menguasainya dalam kurun waktu yang panjang dan lama, namun Salahudin dan orang-orang yang berada dibelakangnya dari para prajurit iman sangat percaya akan cita-cita yang kuat untuk bisa membersihkan Baitul Maqdis dan pusat kota Syam dari berbagai bekas permusuhan, dan hal tersebut mampu terwujud pada bulan Ramadhan.

 Sementara itu, bulan Ramadhan dan puasa bekerja sesuai dengan fungsinya pada umat yang sedang berlumuran dosa, dan masih saja (madrasah 30 hari ini) mengeluarkan orang-orang yang merdeka yang tidak peduli dengan apa yang dihadapi dalam rangka menyebarkan agama mereka dan mengembalikan kemuliaan negerinya, berusaha menghentikan kejahatan dengan tangan mereka dan lisan mereka, sekalipun mereka harus menghadapi kezhaliman dari kerabat dekat mereka dan anak bangsa mereka sendiri dan dari pemimpin diktator dan sebagian para penulis yang loyal kepada mereka.

 Dan kezaliman dari kerabat dekat lebih keras gigitannya

Terhadap jiwa daripada yang dilakukan oleh orang lain

 Dan masih saja madrasah Ramadhan ini mampu mengeluarkan para pahlawan yang berani melawan dan menggetarkan musuh; seperti batalyon al-qassam, brigade al-quds, batalyon al-aqsha, dan yang lainnya dari para mujahidin yang tidak pernah putus akan cita-cita dan angan-angan umat yang berada bersama mereka walau hanya satu hari dalam mewujudkan kemenangan dan kejayaan, dan bahawasanya mereka adalah merupakan janji baru seiring dengan adanya daurah (pelatihan) baru pada madrasah shaum ini; guna meningkatkan jiwa dan ruh sehingga dapat memancar sinar dan lebih ceria; memperkokoh kehendak dan azam pada jiwa yang penuh dengan perasaan  tsiqah dan cita-cita akan kemenangan yang mulia

 “Lalu mereka akan menggeleng-gelengkan kepala mereka kepadamu dan berkata: “Kapan itu (akan terjadi)?” Katakanlah: “Mudah-mudahan waktu berbangkit itu dekat”. (Al-Isra:52)

 Madrasah 30 hari Ramadhan masih membentangkan para pecintanya dan pendaftarnya akan pelajaran yang bermanfaat, dan bagi kita ada yang akan kembali sebagiannya insya Allah.

Posted in Fikrah, Ibadah | No Comments Yet

  • Blogroll

    • ISMAPJ
    • ISMAPJ Wanita
  • Info Centre

    • ADMIN
    • EMAIL
  • Recent Posts

    • Ta’awun, Tanaashur & Taraahum
    • Madrasah Hassan al-Banna Siri 3
    • Ramadhan, Perubahan & Merdeka Siri 2
    • Ramadhan, Perubahan & Merdeka Siri 1
    • Umat Yang Satu Dalam Madrasah Ramadhan
    • Agenda Harian Di Bulan Ramadhan
    • Madrasah Hassan Al-Banna Siri 2
    • Madrasah Hasan al-Banna Siri 1
    • An-Naksah 42 Tahun Masjid al-Aqsa
    • Kepentingan Unsur Tetap Dalam Islam
    • Bebas Pemuda Dari Hawa Nafsu
    • Faktor Kehancuran Umat
    • Rabbani Dalam Dakwah
    • Hayya alal Jihad
    • Umat Islam & Sirah Rasulullah
  • Categories

    • Akhlak (13)
    • Al-Banna (3)
    • Aqidah (5)
    • Dakwah (34)
    • Fikrah (38)
    • Fiqh (2)
    • Ibadah (9)
    • Tazkirah (5)
    • Tokoh (2)
    • Uncategorized (1)
  • Archives

    • October 2009
    • September 2009
    • August 2009
    • July 2009
    • June 2009
    • May 2009
    • April 2009
    • February 2009
    • January 2009
    • December 2008
    • November 2008
    • October 2008
    • September 2008
    • August 2008
    • July 2008
    • June 2008
    • May 2008
    • April 2008

Blog at WordPress.com.

Theme: Mistylook by Sadish.