Syeikh Yusuf al Qaradhawi
Jelas bagi orang yang mengadakan kajian atau peninjauan, bahawa gerakan Ikhwanul Muslimin sejak permulaannya telah membangun Madrasah Teladan bagi pendidikan Islam yang benar-benar berhasil. Masalah penting yang telah diwujudkannya ialah membentuk generasi muslim yang baru, yang memahami Islam dengan tepat dan bekerja untuk dirinya dan keluarganya serta berjuang menegakkan agama Allah, merealisir ajarannya dan mempersatukan umatnya.
Faktor-faktor Yang Mendokong Keberhasilan
1. Iman yang tak tergoyahkan bahawa pendidikan adalah satu-satunya jalan untuk merubah masyarakat, membentuk pemimpin dan mewujudkan cita-cita. Pemimpin gerakan itu, Hasan Al-Banna, menyedari bahawa pendidikan itu jalannya panjang dan kesulitannya banyak. Hanya sedikit orang yang sabar menempuh jalannya yang panjang dan kesulitannya yang banyak, iaitu orang yang berkemahuan keras. Tetapi Hasan Al-Banna yakin pula bahawa pendidikan itu satu-satunya jalan yang dapat menyampaikannya kepada tujuan dan tidak ada jalan lain lagi. Itulah jalan yang ditempuh oleh Nabi SAW untuk membentuk generasi teladan yang diridhai Tuhan, yang tidak pernah disaksikan bandingannya oleh dunia. Mereka inilah yang melaksanakan pendidikan bagi berbagai bangsa dan mengarahkannya kepada kebenarah dan kebaikan.
2. Rencana pendidikan mempunyai tujuan tertentu, langkah-langkah yang jelas, sumber yang terang, bahagian-bahagian yang saling mendukung, dengan sistem beraneka ragam dan ditegakkan atas falsafah yang jelas, digali dari ajaran Islam bukan dari ajaran lainnya.
3. Suasana kebersamaan yang positif, yang dibina oleh jamaah. Hal itu akan membantu setiap anggotanya untuk hidup secara Islam, melalui sugesti (nasihat), contoh teladan, persamaan perasaan dan tindakan. Manusia menjadi lemah bila menyendiri dan menjadi kuat dengan jamaahnya. Jamaah merupakan kekuatan untuk menegakkan kebaikan dan ketaatan serta merupakan perisai terhadap kejahatan dan maksiat. Dalam hadith tersebut: “Pertolongan Allah diberikan kepada Jamaah “; “Serigala hanya memakan kambing yang tersisih dari kawanannya.”
4. Pemimpin yang mendidik dengan bakat, ilmu dan pengalamannya yang dianugerahkan kepadanya kekuatan iman yang luar biasa, membekas pada setiap hati orang yang berhubungan dengannya, melimpah dari hatinya ke hati orang-orang di sekitamya. Dia seperti dinamo yang dari kekuatannya hati mereka diisi dengan “kekuatan” Kata-kata bila keluar dari hati langsung masuk ke hati para pendengarnya tanpa memerlukan keizinan, tetapi bila keluar hanya dari lidah maka pengaruhnya tidak akan melampaui telinga. Orang yang memiliki hati yang hiduplah yang dapat mempengaruhi pendengar dan pengikutnya. Sedangkan orang yang mempunyai hati yang mati tidaklah mampu menghidupkan hati orang lain. Sebab orang yang tidak memiliki sesuatu tidak dapat memberikannya kepada orang lain dan wanita yang tidur tidak sama dengan wanita yang kehilangan anak.
5. Adalah sejumlah pendidik yang ikhlas, kuat dan terpercaya yang meyakini jalan yang dibentangkan oleh pimpinan. Mereka mempunyai pengaruh terhadap murid-muridnya dan mereka ini menjadi pendidik – pendidik bagi generasi sesudahnya, demikianlah seterusnya. Dengan para pendidik di sini tidaklah saya maksudkan alumni Perguruan Tinggi Ilmu Pendidikan atau pemegang ijazah Majester (MA) dan Doktor dalam pendidikan. Yang saya maksudkan ialah orang yang memiliki “kualiti” iman yang tinggi, kekuatan jiwa, keberanian hati, kekerasan kemahuan, kelapangan dada dan kesanggupan mempengaruhi orang lain. Mungkin mereka seorang jurutera atau pegawai rendahan atau pedagang atau buruh, diantara orang-orang yang tidak
mempelajari dasar-dasar pendidikan atau sistemnya.
6. Cara pelaksanaan yang bermacam-macam, yang bersifat peribadi, yang bersifat kelompok, yang bersifat teori, yang bersifat praktikal, yang bersifat pemikiran, yang bersifat perasaan, yang berbentuk perintah dan yang berbentuk larangan semua itu dilaksanakan dalam bentuk pelajaran, ceramah, seminar, diskusi dan pendekatan peribadi, begitu pula syairsyair yang dihafal, bacaan-bacaan yang diulang-ulang, nyanyian-nyanyian dengan kata-kata, irama dan lagunya mempunyai pengaruh tertentu . . . pertemuan-pertemuan bergilir dari kelompok-kelompok di rumahrumah dengan acara membaca Al Qur-an, memperluas ilmu pengetahuan, ibadat dan memperkuat tali persaudaraan, semuanya itu dinamakan kelompok “keluarga” yang menanamkan perasaan cinta dan kasih sayang di antara anggota-anggota keluarga itu. Di samping itu ada pertemuan-pertemuan lain dalam lingkungan jamaah yang diadakan pada waktu malam. Tujuannya mencerdaskan akal dengan ilmu pengetahuan, membersihkan hati dengan ibadat dan menyihatkan badan dengan olahraga. Pertemuan ini dinamakan “kutaibah” (regu) yang menanamkan pengertian jihad. Selain itu masih ada sistem-sistem lain yang semuanya bertujuan membentuk manusia muslim yang sempurna.
Sumber: At-Tarbiyyatul Islamiyah Wa Madrasatu Hasan Al-Banna