Syeikh Muhammad Mahdi Akif
Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah”. (Al-Ahzab: 21)
Ketika Allah SWT mengutus Rasul-Nya -saw-, maka bersatu suku-suku yang terpecah belah, lenyap permusuhan antar kabilah dan kelompok serta sukuk, dan ditetapkan batasan-batasan dan hukum-hukum dalam berperang, meletakkan dasar-dasar moralitas, menyempurnakan nilai-nilai kemuliaannya, sehingga terbentuk darinya umat yang dibangun oleh dasar-dasar kebebasan, menegakkan kebenaran, keadilan dan kesetaraan antara sesama manusia, tanpa perbedaan warna, gender atau kelas dan tingkatan.. Dan tidak akan tegak suatu umat kecuali kerana kebaikan yang dilakukan pada masa awal dan akhirnya, sebagaimana tidak akan berdiri suatu umat kecuali dengan meneladani Rasulullah saw.
Umat Islam Harus Mempelajari Sirah Nabi saw,
Oleh kerana itu, umat Islam harus mempelajari sirah sehingga mereka dapat menerapkan nilai-nilainya dan pelajarannya dalam diri mereka dan membuat mereka menjadi panutan bagi manusia dalam ke istiqamahan dan kebaikan sejarah hidup mereka, lurus jalan hidupnya melalui dakwah mereka dalam melakukan reformasi. Sehingga itu semua; Nabi saw kembali menjadi cahaya yang terang benderang dan mengusir gelapnya kehidupan mereka, serta memberikan hawa sejuk dan kehangatan ke dalam hati, pikiran dan perilaku. Sebagaimana -dengan itu pula- masyarakat Islam dapat kembali integritasnya, istiqamahnya dan keteladanannya serta kembali mampu berada di garis terdepan dalam kepemimpinan di seluruh bangsa di dunia, serta terwujud firman Allah: “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman”. (Ali Imran:110)
Bahawasanya krisis yang paling serius yang terjadi saat ini adalah krisis keteladanan; keteladanan yang baik dan saleh di tingkat masyarakat dan bangsa, bukan hanya pada tingkat individu, kerana –al-hamdulillah- kita punya sosok teladan, namun bangsa tidak dapat berubah oleh individu yang kecil, melainkan nasib bangsa-bangsa perlunya perubahan kolektif dan kerja secara kolektif, dan jika terjadi kekosongan yang panjang pada masalah ini, maka akan menjadi ancaman krisis bagi seluruh dunia dan bahkan akan runtuh kehidupan bangsanya dan mengalami kegagalan sistem yang ada dan pada akhirnya akan berpaling dari Allah SWT.
Wahai Ikhwanul Muslimin…
Wahai umat Islam seluruhnya…
Sesungguhnya umat Islam saat ini sangat memerlukan untuk mengingati sirah dan mengenang perjalanan hidup nabi Muhammad saw yang telah menanggung beban menghadapi berbagai cubaan, celaan dan siksaan, sabar dalam meniti jalan yang berat dan penuh onak dan duri demi tegaknya ajaran Islam dan terbangunnya jati diri dan umat yang mulia sehingga mereka menjadi teladan yang baik secara nyata, menghilangkan wahm (keraguan) dalam jiwa mereka dan menghancurkan kesewenang-wenangan dan ketidakadilan di negeri mereka. Setiap muslim dan muslimah memiliki kewajiban untuk meneladani Rasulullah saw dalam berbagai aspek kehidupan mereka, kerana hal tersebut merupakan jalan satu-satunya untuk mencapai keamanan dan kebahagiaan di dunia, dan keberuntungan dan nikmat di akhirat.
Meneladani Rasulullah dapat ditinjau dari berbagai hal:
1- Ibadah: Bahawa beliau adalah orang yang paling tahu dan mengenal Allah, orang yang paling takut dan bertaqwa, namun beliau orang yang kadang puasa kadang berbuka, tidur dan bangun, dan menggauli wanita (isteri) dengan baik, namun tidak mempengaruhi posisi beliau sebagai orang yang paling banyak beribadah.
2– Berinteraksi dengan tetangga: Nabi saw bersabda:
“Jibril selalu mewasiatkan kepada saya tentang tetangga sampai aku menyangka bahawa tetangga mendapat hak warisan”. (Muttafaq alaih)
3– Berinteraksi dengan sesama manusia: Beliau kadang menjual dan membeli, sangat sopan jika menjual dan sangat ramah jika membeli, ramah saat memutuskan hukum dan ramah pula saat menuntut hukuman.
4– Akhlaq dan perilaku secara umum: Nabi saw adalah sebaik-baik manusia dalam berakhlaq dan beretika, orang yang paling mulai dan paling bertaqwa dalam berinteraksi. Allah berfirman sambil memuji nabi saw: “Sungguh dalam dirimu terdapat akhlaq yang mulia”. (Al-Qalam:4)
Dan Aisyah pernah berkata ketika ditanya kepadanya tentang akhlaq nabi saw, beliau berkata: “Akhlaq nabi adalah Al-Qur’an”. (Shahih Muslim)
– Damai dan Perang serta selalu menghormati dan memenuhi janji: “Rasulullah saw masuk ke kota Madinah dengan mengangkat bendera perdamaian. Ketika masuk kota Madinah beliau berkata: “Wahai sekalian manusia, tebarkanlah salam, berilah makan, shalat malam lah saat orang lain tidur lelap niscaya masuk surga dengan selamat”. (Tirmidzi dari Abdullah bin Salam),
Dan ketika memasuki kota Mekah saat berhasil menaklukkannya, beliau berkata kepada orang yang memusuhi dan memeranginya: “Pergilah kalian, hari ini kalian bebas”.
Demi Allah, Sungguh sangat menakjubkan sejarah hidupmu, wahai Rasulullah. Sungguh agung perilaku dan akhlaqmu, sehingga semua itu adalah madrasah Ilahiyah bagi setiap pemimpin, bagi setiap presiden, bagi setiap penguasa, bagi setiap komandan, bagi setiap hakim, bagi setiap politikus, bagi setiap guru, bagi setiap pasangan suami isteri, bagi setiap orang tua. Engkau adalah teladan yang sempurna bagi seluruh manusia, dan bagi setiap yang menginginkan kesempurnaan dalam berbagai bentuk, manifestasi dan tren, segala puji bagi Allah yang telah memberikan nikmat kepada Nabi Muhammad saw untuk kami semua, dan segala puji bagi Allah yang telah memberikan nikmat kepada mu untuk umat manusia seluruhnya.