Ada beberapa nilai-nilai yang menjadi pokok utama dalam membentuk peribadi memiliki sikap muqawamah dan shumud, yang mana keduanya juga sangat diperlukan oleh para duat yang menginginkan kemenangan terhadap kebenaran yang dicitanya, mampu mengalahkan dan menghancurkan kezaliman. Begitupun bagi setiap orang yang sedang mencari kemenangan dan memerangi kebatilan.
Nilai-nilai yang perlu kita pelajari dan mengajarinya kepada orang lain dan kepada anak-anak serta keluarga.. sehingga dengannya kita mendapat keyakinan bahawa dalam kehidupan ini telah ditetapkan adanya perseteruan antara al-haq dan al-batil, dan tarikan kejahatan akan terus terjadi sehingga menjadi satu bahagian dari pembentukan jiwa setiap insan… Adapun nilai-nilai yang perlu kita ketahui tersebut adalah:
Pertama: Al-Fahmu (Pemahaman)
Bahawa tidak mungkin seseorang dapat mempertahankan suatu masalah dan berusaha mengajak orang lain pada kebenaran yang dibawanya kecuali dirinya harus lebih dahulu memahami berbagai aspek permasalahan yang ada secara menyeluruh dan mendetail, sehingga dapat menolak perbagai syubhat, tegar menghadapi berbagai usaha keraguan dan kaburan ideologi. Hal ini merupakan tembok pertama untuk menghadang berbagai penipuan dan tipu daya yang ingin membuat keraguan dalam fikrah dan akal manusia. Kerana itu, al-fahmu merupakan sarana untuk melindungi akal dan fikiran manusia, dan merupakan tembok yang kukuh untuk menghadap setiap usaha orang yang ingin membuat keraguan, atau melemparkan pemilik akal menjadi oportunis, lemah kreativiti atau senang dengan kebanggaan dan ketenangan. Kerana itu pula Rasulullah saw bersabda: “Satu orang faqih (berilmu) lebih ditakuti syaitan daripada 1000 orang abid (ahli ibadah)” (Tirmidzi).
Kedua: Iman kepada Allah dan tsiqah terhadap kemenangan.
Jika al-fahmu merupakan kekuatan ideologi yang dapat melindungi akal dan penghadang fikiran-fikiran rusak lainnya. Maka iman kepada Allah; merupakan kekuatan jiwa yang dijadikan sandaran oleh orang-orang beriman berupa keyakinan dan keimanan kepada Allah; kekuatan yang dapat membuat hati memiliki hubungan yang erat dengan Allah secara berterusan, tidak pernah kehilangan sedikitpun akan perasaan dekatnya kepada Allah walau dalam keadaan apapun dan situasi bagaimanapun; kekuatan yang dapat membuat kebatilan takluk walaupun dalam keadaan yang lebih unggul dan lebih kuat; kekuatan yang berupa tsiqah kepada Allah sekalipun minimum kekuatan material dan senjata serta keterbatasan pada kemampuan lainnya. Bahawa kekuatan iman merupakan kekuatan rabbaniyah yang sangat dahsyat; selamanya, tidak ada yang mampu mengalahkannya pada seseorang yang telah terpateri dalam jiwanya keyakinan tersebut, sekalipun masanya panjang dan menghadapi ujian yang paling keras.
Ketiga: Sabar
Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar”. (Al-Baqarah:153). Cukuplah ayat diatas menjadi pemberi khabar gembira yang lengkap akan janji Alah untuk orang-orang yang bersabar berupa kemenangan. Kerana, kenapa mereka tidak mendapatkan kemenangan padahal Allah bersama mereka; dan Dialah, Allah yang Maha Kuat, Maha Perkasa dan Maha Sombong, yang tidak ada seorangpun mampu mengalahkannya; baik di bumi maupun di langit?! Sesungguhnya sabar merupakan kunci kemenangan, dan petunjuk ketundukan serta sebagai bukti akan keimanan yang kukuh bagi pemiliknya.
Keempat: Tsabat
Dipertengahan jalan pasti akan ada banyak fitnah, ujian dan musibah yang menghalang. Allah SWT berfirman: Alif, lam, mim. Apakah manusia mengira akan ditinggalkan ketika mereka berkata kami beriman (kepada Allah) sementara mereka tidak diuji”. (Al-Ankabut:1-2)
Dan kemenangan tidak akan diberikan kecuali kepada mereka yang tsabat sekalipun ujian menghalang, tetap berada dalam prinsip-prinsip dan syariat–Nya, tidak pernah merasa hina dan tidak pernah mahu tunduk kepada siapapun dari makhluk Allah sekalipun harus berhadapan dengan berbagai fitnah dan ujian serta menemui berbagai ujian; baik terhadap hartanya, anaknya atau jiwanya sekalipun. Bahawa pasukan perlawanan secara sederhana bererti kelompok terlemah dari sisi material namun bukan bererti tidak memiliki kemampuan dan kekuatan dari sisi lainnya saat bertemu dengan ujian dan cubaan. Kerana hal tersebut merupakan suatu keniscayaan yang tidak boleh dielakkan.
Kelima: CIta-cita (Optimisme)
Pada saat terjadi perang Al-Ahzab, ketika umat Islam di kepung dari perbagai penjuru; oleh pasukan kaum musyrikin Quraisy, dari jazirah Arab di bahagian depan, yahudi dari bahagian belakang kota Madinah, dan ketika umat Islam menggali parit, Rasulullah saw memukul sebuah bongkahan batu besar disaat Salman tidak mampu menghancurkannya, maka muncullah cahaya, lalu nabi saw bersabda: “Allah Akbar, kelak aku diberikan kunci kerajaan Persia. Kemudian beliau memukul kembali untuk kali kedua, dan muncul cahaya lagi, dan Rasulullah saw bersabda: Allah Akbar, aku diberikan kunci kerajaan Romawi.
Begitulah Rasulullah saw ketika berada dalam keadaan sulit dan keras yang menimpa umat Islam; selalu memberikan khabar gembira kepada mereka berupa kemenangan, sehingga membuat mereka semakin yakin dengan keimanan mereka, dan –disisi lain- membuat orang-orang munafik terus mencela, menghina dan melecehkan, namun kerana dorungan cita-cita dan optimisme yang dihembuskan Rasulullah saw ke dalam jiwa mereka sehingga memberikan hasil yang gemilang; dibangun atas dasar yang kuat dan keimanan yang benar akan kemenangan, sehingga jiwapun bersemangat untuk meraih kemenangan dan mengembalikan mata umat untuk melihat hakikat yang jelas dan menyedari sekalipun kebatilan untuk sementara waktu dapat memenangkan pertarungan secara material dan banyaknya korban yang menimpa mereka, namun mereka tetap yakin bahawa cepat atau lambat kemenangan pasti akan mereka raih.
Bahawa perjuangan dan ketegaran selalu memperlukan angan-angan, cita-cita, asa, khabar gembira dan optimisme; sehingga mampu memberikan kekuatan untuk tetap tegar berjuang dan menggapai kemenangan dimasa mendatang Insya Allah.
Keenam: Pengorbanan
Barangsiapa yang tidak ingin berkorban maka jangan berharap mendapat kemenangan; kerana kemenangan bukan sekadar material yang dapat diraih dengan cepat namun ia merupakan sekumpulan dari nilai-nilai; kemuliaan, martabat dan kehormatan jiwa serta mempertahankan kebenaran, dan nilai-nilai yang mengalahkan harta, jiwa dan waktu. Pengorbanan memang sakit dan melelahkan, namun sangat penting dimiliki dalam keadaani apapun terutama dalam kancah peperangan. Sebagaimana pengorbanan merupakan harga yang sangat mahal yang harus dibayar bagi siapa yang ingin mendapat kemenangan, kerana barangsiapa yang menginginkan syurga tanpa pengorbanan maka selamanya tidak akan mendapatkannya.
Ketujuh: Tentangan
Ketika orang-orang Quraisy menawarkan kepada Rasulullah saw harta, kekuasaan dan wanita agar ia mahu berhenti dari dakwahnya, Rasulullah saw tidak menerima tawaran tersebut sehingga mereka mampu menghadirkan apa yang mereka tidak boleh melakukannya: matahari dan bulan. Kerana itu, alternative dari itu semua adalah perang.
Demikianlah kebatilan; selalu menggunakan berbagai macam cara dan sarana untuk mengalahkan para pembawa panji kebenaran; kadang dengan rasuah, kadang dengan ancaman, dan kadang tidak menunggu dua tawaran tersebut kecuali agar mereka tunduk. Jadilah seperti Khubaib bin Adiy, tidak pernah sedikitpun mahu tunduk pada keinginan Abu Sufyan dan pengikutnya ketika diperintah untuk mengejek dan mencela Rasulullah saw dihadapan mereka, sedangkan dirinya dalam keadaan terpasung (tersalib) di batang pohon kurma, menunggu hukuman mati dalam beberapa saat, dan beliau memilih mati dengan mulia berbanding hidup yang penuh dengan kehinaan dan kehancuran.
Demikianlah beberapa nilai-nilai sebagai syarat untuk dapat membentuk diri memiliki al-muqawamah dan as-shamad; yang selalu diajarkan setiap hari kepada anak-anak di Gaza, diperdengarkan nasyid-nasyid indah tentang al-muqawamah walau berada di tengah serangan roket dan bom-bom Zionis, yang selalu disenandungkan oleh para wanita dan orang-orang tua, kemudian dibalas oleh para mujahid dengan peluru dan misil kemuliaan dan kebanggaan yang sangat diperlukan oleh Arab di berbagai penjuru. Setiap harinya –diantara mereka- ada yang syahid, namun dengan itu semua, mereka mampu mendorong jiwa kita; mengobarkan semangat jihad di dalam jiwa-jiwa dan hati-hati kita; syiar yang selalu di dengunkan adalah “Syahadah atau menang”, “Hidup mulia atau syahadah” “Hidup dengan cara terhormat, dan bebas dari penjajahan atau syahadah mendapat surga”.
Salam sejahtera atas kalian wahai pejuang Gaza… salam sejahtera atas kalian semua.