Feeds:
Posts
Comments

Syeikh Yusuf al-Qardhawi

Ta’awun (saling tolong menolong), tanaashur (saling mendukung) dan taraahum (saling berkasih sayang) adalah merupakan buah dari ukhuwah. Kerana apalah artinya berukhuwah jika kamu tidak membantu saudaramu ketika memerlukan dan menolongnya ketika dia ditimpa oleh cubaan, serta belas kasihan kepadanya ketika ia lemah. Rasulullah SAW telah menggambarkan tuiuan saling tolong menolong dan keterikatan antara kaum Muslimin dalam bermasyarakat antara yang satu dengan lain dengan gambaran yang mantap. Sebagaimana dalam sabdanya: “Mukmin yang satu dengan yang lainnya bagaikan sebuah bangunan yang saling memperkuat antara sebahagian dengan sebahagian yang lainnya. (Rasulullah SAW sambil memasukkan jari-jari tangan ke sela jari jari lainnya) (HR. Muttafaqun ‘alaih)

Batu Bata Yang Kukuh

Satu batu merah tentu saja lemah, meskipun terlihat kuat. Dan seribu batu bata yang berserakan (tidak teratur), tidak mampu berbuat apa-apa yang tidak boleh berbentuk bangunan. Akan terbentuk bangunan yang kuat manakala batu bata itu disusun dengan teratur dalam susunan yang rapi dan kokoh sesuai dengan aturan yang berlaku. Ketika itulah akan terbentuk dari batu-batu tersebut dinding yang kokoh dan dari dinding-dinding itu akan terbentuk rumah yang kuat pula, yang tidak mudah dirobohkan oleh tangan-tangan yang merusak.

Rasulullah SAW dalam hadits lainnya juga menggambarkan keterikatan masyarakat Islam antara yang satu dengan yang lainnya dalam bentuk cinta dan kasih sayang sebagai berikut:  “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam (menjalin) cinta dan kasih sayang di antara mereka bagaikan tubuh yang satu, apabila ada anggota (tubuh) yang merasa sakit, maka seluruh anggota yang lainnya merasa demam dan tidak boleh tidur.” (HR. Muslim)

Kewajiban Ta’awun & Tanaashur

Anggota tubuh yang satu dengan yang lainnya saling memerlukan dan tidak boleh terpisah serta tidak akan boleh hidup sendiri-sendiri. Maka tidak boleh terpisah antara alat pernafasan dengan alat pencernaan, atau keduanya dengan tekanan darah. Masing-masing saling menyempurnakan satu dengan yang lainnya. Maka dengan kerjasama antara bahagian tubuh dan saling membantu, seluruhnya akan hidup dan akan terus berkembang dan boleh berperan aktif.

Rasulullah SAW juga memasukkan unsur (pemahaman) baru dalam menolong Muslim terhadap Muslim lainnya, yaitu dengan sabdanya: “Tolonglah saudaramu, baik yang berbuat zalim maupun yang dizalimi,” Nabi ditanya, “Kalau yang dizalimi kami boleh menolong, bagaimana dengan orang yang menzalimi wahai Rasulullah? Nabi SAW bersabda, “kamu pegang kedua tangannya atau kamu cegah dia dan kezaliman, itulah cara kita menolongnya.” (HR. Bukhari)

Dalil Al-Quran Al Karim

Allah swt mewajibkan saling menolong dan memerintahkannya dengan syarat dalam hal kebaikan dan ketaqwaan. Ia mengharamkan dan melarang saling menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan, Allah SWT berfirman:  “Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (Al Maidaah: 2)

Al Qur’an juga memerintahkan agar orang-orang yang benman antara sebahagian dengan sebahagian lainnya saling mendukung, itulah salah satu kesan keimanan, sebagaimana dalam firman Allah SWT: “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perernpuan, sebahagian mereka menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf mencegah dari yang munkar.” (At-Taubah: 71)

Beza Mukmin & Munafik

Ini bertentangan dari sifat-sifat orang munafik yang juga berbuat demikian, sebagaimana firman Allah SWT: “Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebahagian dengan sebahagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh berbuat yang mungkar dan melarang berbuat yang ma’ruf.” (At Taubah: 67).

Sebagaimana dilakukan juga oleh para sahabat, Allah SWT berfirman tentang mereka sebagai berikut: “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.” (Al Fath: 29). Maksud dari ayat di atas adalah agar yang kuat itu membantu yang lemah, yang kaya mengulurkan tangan kepada yang miskin. Hendaknya seorang yang alim mengajari yang bodoh, yang tua mengasihi yang muda, begitu pun yang muda menghormati yang tua, dan hendaknya yang bodoh itu mengetahui kewajibannya terhadap yang alim, dan hendaknya seluruh kaum Muslimin berada dalan satu shaf untuk menghadapi tantangan dan konspirasi (persekongkolan) musuh baik dalam keadaan perang maupun dalam keadaan damai. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalanNya dalam keadaan berbaris (bershaf-shaf), seakan-akan mereka bagaikan bangunan yang tersusun kokoh.”(As-Shaf: 4)

Aspek Ketuhanan atau keimanan dalam pendidikan Islam seperti difahami dan diterapkan oleh Ikhwanul Muslimin adalah aspek yang paling penting dan paling mendalam pengaruhnya. Yang demikian itu kerana tujuan pertama dari pendidikan Islam adalah membentuk manusia yang beriman kepada Allah. Iman menurut pengertian Islam bukanlah hanya kata-kata yang diucapkan atau semboyan yang dipertahankan, tetapi ia adalah suatu hakikat yang meresap ke dalam akal, menggugah perasaan dan menggerakkan kemahuan, apa yang diyakini dalam hati dibuktikan kebenarannya dengan amal perbuatan: Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang sebenamya beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka ti-dak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan hart a dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar. ” (Al-Hujurat: 15)

Iman dalam Islam bukanlah semata-mata pengetahuan seperti pengetahuan para theologi dan ahli falsafah, bukan pula semata-mata perasaan jiwa yang menerawang seperti perasaan orang sufi dan bukan pula semata-mata ketekunan beribadat seperti ketekunan orang-orang zahid. Iman adalah kesatuan dari semua ini, tidak menyimpang dari kebenaran, tidak lalai dan tidak pula berlebih-lebihan, disertai kreativiti menyebarkan kebenaran dan kebaikan demi membimbing manusia ke jalan yang benar.

Menyatukan Apa-Apa Yang Dipisah-Pisahkan

Ikhwanul Muslimin dalam pendidikan berusaha menyatukan apa-apa yang dipisah-pisahkan oleh para teolog, kaum sufi dan para fuqaha dari unsur-unsur iman yang benar. Mereka berusaha memperbaiki apa yang telah dirosakkan oleh kaum muslimin pada masa terakhir, iaitu pengertian iman yang benar. Lalu mereka kembali kepada sumber yang bening, mengambil daripadanya hakikat iman yang harus ditanamkan dalam diri setiap anggota gerakan. Iaitu iman yang bersumberkan Al Qur-an dan Sunnah Rasul dengan cabang-cabangnya yang sampai enam puluh atau tujuh puluh lebih itu dan oleh Baihaqi telah disusun dalam sebuah kitab bernama “Syu’abul Iman.” Itulah iman para sahabat dan tabi’in, yang meliputi keyakinan hati, pengakuan lisan dan amal perbuatan. Iman yang mewarnai kehidupan mereka di masjid, di rumah dan dalam masyarakat, dalam keadaan sendirian dan di depan umum, di waktu malam dan siang, dalam pekerjaan dunia dan dalam amal akhirat. Demikianlah cirri keluasan dan kedalaman iman dalam pendidikan Ikhwanul Muslimin.

Hati Yang Hidup Yang Berhubungan Dengan Allah

Iman yang mempunyai ciri-ciri khas dengan daya geraknya, daya dorongnya dan gerak aktifnya bagaikan obor yang menyala-nyala, arus yang bergelora, sinar yang menerangi dan api yang membakar. Tiang pendidikan berdasarkan Ketuhanan adalah hati yang hidup yang berhubungan dengan Allah SWT, meyakini pertemuan dengan-Nya dan hisab-Nya, mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan siksa-Nya. Hakikat manusia bukanlah terletak pada bentuk fizikalnya yang terdiri dari sel-sel dan jaringan, tulang dan otot-otot. Tetapi hakikatnya itu terletak pada jiwa yang bersemi pada fizikal itu yang menggerakkannya, menyuruh dan melarangnya. Hakikat itu adalah segumpal darah (mudgah), bila ia baik maka baiklah tubuh seluruhnya dan bila ia rosak maka rosaklah tubuh seluruhnya, hakikat itu adalah hati. Hati, ruh atau fu’ad atau apa-pun namanya adalah suatu wujud yang sadar yang menghubungkan manusia dengan rahsia hidup dan rahsia wujud dan mengangkatnya dari alam bumi ke alam yang tinggi, dari makhluk kepada Khalik dan dari alam fana ke alam yang kekal. Hati yang hiduplah yang menjadi penilaian Allah SWT, menjadi tajalliNya dan pancaran nurNya – “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk (tubuh) mu, tetapi Dia melihat kepada hatimu.” (Al-Hadith)

Menghidupkan Hati Supaya Ia Tidak Mati

Hati adalah satu-satunya pegangan yang dapat ditunjukkan oleh seorang hamba kepada Tuhannya pada hari kiamat sebagai sarana bagi keselamatannya. Allah SWT berfirman: “Pada hari harta dan anak-anak tidak berguna. Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih ” (Asy-Syu’ara’: 88-89). Tanpa hati yang dilimpahi iman dan disinari keyakinan ini manusia adalah mayat, meskipun menurut statistik ia masih hidup. Allah SWT berfirman: “Apakah orang-orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang berada dalam gelap-gulita yang tidak dapat keluar daripadanya?” (Al-An ‘am: 122).

Kerana itu pendidikan Ikhwanul Muslimin bertujuan menghidupkan hati supaya ia tidak mati, memperbaikinya sehingga ia tidak rosak dan memperhalusnya sehingga ia tidak menjadi kasar dan keras. Sebab kekasaran hati dan kejumudan mata merupakan siksaan yang dimohonkan perlindungan Allah dari bahayanya. Kerana Allah mencela Bani Israil dalam firman-Nya “Kerana mereka melanggar janjinya, Kami kutuki mereka dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. ” (Al-Maidah: 13).

Dalam ayat lain Allah berfirman mengenai mereka: Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi “(Al-Baqarah: 74). Kemudian Allah mengingatkan orang beriman dalam firmanNya: “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya. Kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka, lalu hati mereka menjadi keras.” (AlHadid: 16).

Ilmu Bermanfaat Dan Hati Yang Khusyu’

Nabi SAW selalu berlindung kepada Allah dari ilmu yang tidak bermanfaat dan dari hati yang tidak khusyu’. Surat-surat ustaz Hasan Al- Banna kepada kami, begitu pula tulisan-tulisannya dan pidato-pidatonya dalam kesempatan-kesempatan umum dan khusus senantiasa mengetuk hati manusia sehingga terbuka untuk mengenal Allah, mengharapkan karunia-Nya dan takut kepada-Nya, bertaubat dan bertawakal kepada-Nya serta yakin akan rahmat yang tersedia di sisi-Nya, cinta dan redha terhadap-Nya, merasa tenteram dengan mendekatkan diri kepada-Nya dan dengan mengingatNya. Allah SWT berfirman: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram ” (Ar-Ra’du: 28). Dengan demikian hati seorang mukmin menganggap mudah segala kesulitan, memandang manis apa yang pahit, menganggap ringan segala penderitaan, kesukaran dan kesulitan, bahkan semuanya itu enak rasanya selama ia tetap berjuang kerana Allah dan untuk meninggikan agama, ibarat seorang yang dimabuk cinta merasa lazat semua kesulitan perjalanan sampai ia lupa akan haus dan lapar, kerana tujuannya adalah bertemu dengan kekasihnya, seperti yang disenandungkan oleh Ibnul Qaiyim r.a.: “Ingatannya kepada anda membuat ia lupa membawa makanan dan menyiapkan perbekalan, kelelahan perjalanan menjadi hilang kerana harapan akan berjumpa.”

Tiga Perkara Yang Diperlukan Hati

Hati manusia sama dengan tubuhnya, memerlukan tiga perkara:

a. pemeliharaan supaya ia selamat,

b. makanan supaya ia hidup dan

c. pengubatan supaya ia sehat.

Hal pertama yang wajib dipelihara supaya hati bebas daripadanya dan diberi suntikan supaya kebal terhadapnya ialah sifat cinta kepada dunia sebagai pokok setiap kesalahan dan sumber setiap penyakit. Sedang suntikan untuk mencegahnya ialah yakin kepada akhirat, ingat kepada balasan Allah dan membanding-bandingkan antara keremehan apa yang ada pada kita dengan kebesaran apa yang ada di sisi Allah, jika boleh membandingkan antara yang fana dan yang baka. Allah SWT berfirman: “Apa yang ada di sisimu akan lenyap dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal “(An-Nahl: 96).

Untuk mengetahui perbandingan dan kelebihan ini dengan jelas dan nyata, cukuplah seorang mukmin membaca ayat: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, iaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak4) dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah lah tempat kembali yang baik (syurga). Katakanlah: Inginkah aku khabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian ? Untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah) pada sisi Tuhan mereka ada syurga yang mengalir di bawahnya sungaisungai, mereka kekal di dalamnya. Dan (ada pula) isteri-isteri yang disucikan serta keredhaan Allah. Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. ” (Ali mran: 14-15).

Keinginan Kebendaan

Di belakang keinginan kebendaan ini keinginan perut dan seks, cinta harta dan anak-anak — ada yang lebih berbahaya iaitu keinginan hati dan hawa nafsu. Hawa Nafsu adalah seburuk-buruk “tuhan” yang disembah di bumi. Allah SWT berfirman. “Siapakah yang lebih sesat dari pada orang yang mengikuti hawa naf-sunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun.” (Al Qashash: 50). Nafsu kemegahan, nafsu kekuasaan, bertuhankan makhluk Allah, memperturutkan hawa nafsu dan keinginan, mengharapkan tepuk tangan orang banyak dan pujian kaum elite dan sebagainya adalah racun yang membunuh yang membuat hati buta dan tuli, merosak dan membunuhya. Inilah yang dinamakan oleh Imam Gazali dalam kitabnya Ihya’u ‘Ulumiddin sebagai “almuhlikat” (yang mencelakakan) berdasarkan hadith Nabi yang berbunyi: “Ada tiga perkara yang mencelakakan: kekeliruan yang diikuti, hawa nafsu yang diperuntukkan dan kekaguman manusia terhadap dirinya.

Penyakit Kejiwaan

Tetapi sayang kebanyakan manusia tidak mempedulikan hal-hal maknawi yang mencelakakan peribadi-peribadi dan kelompok-kelompok ini. Mereka mengarahkan perhatian sepenuhnya kepada perbuatan-perbuatan lahir yang mencelakakan seperti mencuri, berzina dan minum minuman keras. Memang semua perbuatan itu termasuk perbuatan yang mencelakakan, tetapi lebih kecil kemudaratannya dan lebih ringan bahayanya. Sebenarnya di sebalik semua perkara lahir yang mencelakakan ini terdapat penyakit kejiwaan, yang diketahui oleh sebahagian orang dan tidak diketahui oleh sebahagian yang lain. Kerana itu sejak mula Dakwah Islamiyah mengutamakan pembebasan jiwa dari pengaruh-pengarah dunia dan mengarahkannya kepada Allah sebelum kepa-da segala sesuatu yang lain. Dakwah Islamiyah mengalihkan jiwa manusia dari setiap keuntungan dan kesenangan duniawi yang tidak bernilai di sisi Allah kepada pemusatan perhatian kepada Tu-han dengan sepenuh kekuatan dan menyiapkan ke arah itu pikiran dan perasaan, serta menyiapkan pula suasana dan sarananya. Segi keimanan atau Ketuhanan ini mendapat tempat yang luas dan perhatian yang besar dalam sistem pendidikan Ikhwanul Muslimin. Dakwah hanyalah dakwah kepada Tuhan sebelum segala sesuatu yang lain. Dakwah Ketuhanan hanya mengarahkan pandangan kepada Allah saja dan menjadikan redha-Nya sebagai tujuan akhir. “Bila cintamu benar maka semuanya menjadi mudah, setiap yang ada di atas tanah adalah tanah “

Ikhlas & Tidak Syirik

Allah SWT tidak melihat kepada bentuk (lahir) tetapi kepada hati dan tidak memberi balasan berdasarkan jumlah amal yang tampak, tetapi berdasarkan keikhlasan yang berada di sebaliknya. Allah SWT tidak menerima, kecuali amal yang ikhlas kerana-Nya. Dialah Yang Paling tidak menghargai syirik, sedang riya’ adalah syirik yang tersembunyi. Sebab itu Dia tidak menyukai amal yang berbau syirik dan hati yang musyrik. Amal yang berbau syirik dan hati yang syirik tidaklah diterima-Nya. “Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya ,maka hendalah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.” (AlKahfi: 110). Tidaklah hairan kalau pendidikan Ikhwanul Muslimin bersemboyankan: “Allahu Akbar wa lillahil hamd” dan menjadikan ucapan pertama yang diajarkan kepada para pengikutnya dan ditanamkan dalam akal dan perasaan mereka adalah tujuannya dan pengertiannya yang agung “Allah adalah tujuan kami.”

Misi pendidikan Hasan Al-Banna

Menjadikan sebagai prinsip kedua dari prinsip-prinsip “bai’at” sesudah “memahami” apa yang dimaksud dengan Islam dalam batas-batas “usul dua puluh” yang terkenal itu. Ikhlas ditafsirkannya dengan kata-kata: “Seorang muslim dengan perkataan, perbuatan dan perjuangannya tidak lain ditujunya hanyalah Allah serta mengharap redha dan balasanNya yang baik, tanpa melihat kepada keuntungan, kesenangan, kemegahan, kepayahan, kemajuan atau kemunduran.” Dengan demikian ia menjadi seorang pejuang pemikiran dan akidah, bukan pejuang kerana sesuatu maksud tertentu atau manfaat. Allah SWT berfirman: “Katakanlah: Sesungguhnya solatku, ihadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya, dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku.” (Al-An’am : 162-163).

Orang-orang yang mengenal penyakit-penyakit hati dan jiwa mengetahui, bahawa sesuatu yang paling berbahaya yang dihadapi oleh mereka yang bergerak di bidang dakwah ialah terpengaruh dengan hawa nafsu, mengharapkan berdiri di baris depan, menginginkan populariti dan kepemimpinan. Kerana itu Rasulullah memperingatkan agar kita jangan terjerumus ke dalam jurang cinta kemegahan dan harta dan ke dalam syirik yang tersembunyi, iaitu riya. Al Qur-an dan Sunnah Nabi dengan nada tinggi memanggil orang-orang ikhlas yang mengerjakan apa yang mereka kerjakan “kerana mengharap redha Allah,” tidak menghendaki balasan dan ucapan terima kasih dari seseorang. Rasulullah memuji orang muslim yang kreatif lagi pendiam, yang melaksanakan kewajibannya sedang ia tidak dikenal dan tidak mendapat pujian di kalangan masyarakat. Beliau bersabda: “Kadang-kadang orang yang berambut kusut masai, dekil, berpakaian kumal tak diindahkan orang, sekiranya ia bersumpah dengan nama Allah tentulah Allah mengabulkannya.”

“Mujurlah seorang hamba yang memegang kekang kudanya fi sabilillah, kusut masai rambutnya berdebu kakinya, jika dalam penjagaan ia tetap dalam penjagaan dan jika dalam penyerangan ia tetap dalam penyerangan.”

Contoh Teladan Yang Hidup

Semoga Allah memberi rahmat kepada Khalid bin Walid, Saifullah, yang sebagai panglima ia telah memimpin dengan sebaik-baiknya dan sebagai perajurit telah pula melaksanakan tugasnya dengan sebaik-baiknya. Ikhwanul Muslimin benar-benar menekankan pengertian-pengertian ini dalam pendidikannya dan sama sekali melarang penonjolan diri, yang membawa kepada patahnya tulang punggung. Di antara hasil pendidikan ini lahirlah banyak perajurit yang tak dikenal dalam jamaah itu, atau seperti yang dinamakan oleh Hadith Nabi yang diriwayatkan oleh Tirmdhi: “Orang-orang baik yang bertakwa yang tak dikenal, bila mereka tidak hadir tidak dicari-cari dan jika mereka hadir maka mereka tidak dikenal orang.”

Begitu pula di kalangan mereka kita temukan pendukung-pendukung seperti kaum Anshar yang kelihatan banyak ketika keadaan sulit dan kelihatan sedikit ketika memperebutkan keuntungan. Betapa banyak orang yang mengorbankan harta dan jiwa mereka tanpa disebut-sebut namanya atau dipukul genderang menyambut kehadirannya. Berapa banyak pemuda yang berjuang di Palestina dan Kanal Suez yang menunjukkan kepahlawanan yang mengagumkan, tanpa mengharapkan balasan atau ucapan terima kasih dari seseorang dan tanpa meminta disebut-sebut jasanya, kerana takut akan lenyap nilai amalnya disebabkan rasa takabur dan sombong. Kemudian usaha diarahkan kepada memberi santapan hati setelah memeliharanya dari bermacam-macam penyakit. Santapan hati hanya sempurna dengan adanya hubungan yang terus menerus dengan Allah SWT, ingat dan bersyukur kepada-Nya serta melak-sanakan ibadat dengan sebaik-baiknya. Di antara nilai-nilai pokok yang dilaksanakan oleh pendidikan Ketuhanan Ikhwanul Muslimin adalah ibadat kepada Allah. Itulah tujuan pertama dari penciptaan manusia. Allah SWT berfirman: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia, melairikan supaya mereka benbadat kepada-Ku.” (Adz-Dzariyat: 56).

Risalah dari Syeikh Dr Muhammad Mahdi Akif, Mursyid Am Ikhwanul Muslimin

 Ramadhan; bekal untuk berubah dan amunisi menuju kemenangan

Betapa agungnya bulan ramadhan yang mulia ini!! Betapa besar pengaruh dan dampak positif yang dapat diterima oleh setiap jiwa umat Islam; menuju peningkatan ruhi diatas materi dan menghubungkannya dengan sang pencipta dan memperkokoh ikatan dengan Zat yang memiliki dan mengusai kerajaan langit dan bumi.. maka dari itu pada bulan ramadhan yang penuh berkah ini, umat Islam mendapatkan kenikmatan melalui shiyam (puasa), qiyam, tilawah Qur’an dan pendekatan diri kepada Allah pada saat I’tikaf… dan kesemu itu merupakan sarana tarqiyah (peningkatan) diri seorang muslim.

 1. Puasa dan kekuatan kehendak

Pada ibadah puasa terdapat pengokohan kehendak dan pembinaan akan kesabaran; melalui pencegahan diri dari makan, minum dan hal-hal yang dapat membatalkan walaupun tidak ada yang mengawasinya kecuali Allah, tidak ada yang mengetahui kecuali dirinya, tidak ada yang mengiringinya kecuali hatinya, dan tidak yang disandarkan kecuali kehendaknya yang kuat dan penuh kesedaran.

 Kerana itulah bulan ramadhan disebut dengan bulan kesabaran, seperti yang disebutkan dari Abu Hurairah ra berkata; Rasulullah saw bersabda:

 “Setiap sesuatu pasti ada zakatnya, dan zakat tubuh adalah puasa, dan puasa adalah bahagian dari kesabaran”. (Ibnu Majah)

 Puasa dengan apa yang ada di dalamnya; kesabaran dan pengekangan jiwa; merupakan inti sarana Islam dalam mempersiapkan seorang muslim untuk teguh dan sabar, memiliki ikatan (komitmen) yang kuat dan menjadi mujahid yang tangguh;  yang siap dan mampu menahan kondisi miskin, lapar dan hidup sederhana, siap berada dalam kondisi keras (perang), sengsara dan kerasnya kehidupan, kerana barangsiapa yang mampu memenangkan jiwanya maka terhadap yang lainnya juga akan mampu dihadapi, dan barangsiapa yang mampu sabar dalam kondisi lapar dan haus maka pada saat dikepung oleh musuh dan segala cobaan hidup lain yang lebih keras darinya akan lebih mampu dihadapi.

 Dan begitu pula tidak akan mampu menuntut kemerdekaan dan kembalinya hak-hak yang hilang dan tegar berdiri dihadapan para durjanan yang diktator kecuali bagi orang-orang yang memiliki bekal keimanan yang kokoh, azimah yang kuat , semangat yang tinggi; sehingga membuat dirinya tidak akan pernah takut dengan berbagai kezhaliman yang dialami, tidak akan berputus asa sekalipun jalan menuju kemenangan begitu panjang, tidak merasa lemah dan merasa hina dari berbagai hambatan dan kesulitan yang dihadapan, bahkan keteguhan dengan haknya terus meningkat dan perasaannya akan kemuliaan jiwa yang terus menguat:

 “Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, Padahal kamulah orang-orang yang paling Tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman”. (Ali Imran:139)

 Dan firman Allah:

 “Janganlah kamu lemah dan minta damai Padahal kamulah yang di atas dan Allah pun bersamamu dan Dia sekali-kali tidak akan mengurangi pahala amal-amalmu”. (Muhammad:35)

 2. I’tikaf merupakan sarana peningkatan diri dekat dengan Allah

Pada bulan Ramadhan disunnahkan melakukan I’tikaf; yang merupakan pembentuk  jiwa yang sangat penting sekali, bahagian dari berkhalwah dengan Allah, di dalamnya para pencari kebaiakan dan perbaikan bersemangat untuk mengishlah (memperbaiki) hati-hati mereka, melalui pemutusan langsung yang disertai penerimaan secara total akan kewajiban shalat, tilawah Qur’an, dzikir dan meninggalkan berbagai kesibukan, ucapan yang tiada guna, makan dan minum serta tidur. Demikianlah kehidupan Rasulullah saw; dari Abu Hurairah ra berkata:

  “Bahawa Nabi saw beri’tikaf pada setiap bulan Ramadhan di sepuluh hari terakhir, dan pada saat tahun terakhir hidup beliau beliau beri’tikaf selama 20 hari”. (Bukhari), Kerana itu barangsiapa yang mau mernerima Allah dengan hatinya dan memutuskan hubungan dengan selainnya maka Allah akan memberikan dukungan-Nya kepadanya, memberikan taufiq dan kemenangan-Nya.

 3. Al-qur’an merupakan ruh (spirit) yang mengalir dalam hati sehingga mampu menghidupkannya

Imam Al-Banna berkata: telah datang bersama Ramadhan untuk manusia seorang nabi dan kitab (Al-Qur’an), yang mampu memberikan kebangkitan besar pada diri manusia seperti yang masyhur terjadi, menyempurnakan risalah terbesar seperti yang telah disaksikan oleh dunia; bahawa nabi saw, kitab Al-Qur’an Al-Karim serta risalah merupakan sarana pembentuk agama, penghidup jiwa-jiwa umat, pendiri suatu Negara, tugasnya di dunia ini adalah menyatukan dunia dibawah bendera prinsip kemuliaan, nilai-nilai yang suci dan kebaikan-kebaikan Insan yang kekal

Supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. Allah-lah yang memiliki segala apa yang di langit dan di bumi”. (Ibrahim1-2)

 Dan nabi pun telah menyampaikan risalahnya dan membacakan kitabnya kepada umat manusia, sehingga jazirah Arab tunduk kepadanya dan hancur singgasana kekaisaran! Memangkas habis naungan istanan kekaisaran, menyebar luas bendera Al-Qur’an dan prinsip-prinsipnya, pada kekuasan yang menyebar dari daratan Cina hingga dar el-baidha, dari jantung kota Perancis hingga ujung Afrika, dan umat manusiapun berbondong-bondong masuk Islam.

 Namun, Kemudian apa? Kemudian runtuhlah Negara tersebut, terpangkas habis naungan yang begitu lebar dan luas, oleh kerana acuh terhadap ajaran Islam, berlomba-lomba pada singgasana dan dunia, husnudzan yang tinggi kepada Musuh dan hari-harinya yang memilukan, kemunduran mereka sepanjang zaman, waktu dan tempat, kejahilan mereka terhadap berbagai permasalahan yang terus berubah dan berkembang, sehingga agama terlupakan, umat ternina bobokan, Negara tercabik-cabik, hancur seperti kerajaan Saba, sementara umat manusia menduga bahawa permasalahannya telah selesai, dan kemuliaan ini telah hilang selamnaya, sementara orang-orang munafik dan orang-orang yang hatinya sakit:

 “Allah dan Rasul-Nya sama sekali tidak memberikan janji kecuali hanya tipu belaka”. (Al-Ahzab:12)

 Namun Allah swt yang Maha tinggi dan Maha Besar, pemilik risalah dan Al-Qur’an yang menjamin dan memlihara, seperti dalam ayat-Nya:

Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an dan Kami pula yang akan menjaganya”. (Al-Hijr:9),

dan berjanji akan melindungi pemiliknya :

  “Sesungguhnya Allah akan membela orang-orang yang beriman”. (Al-Hajj:38),

dan disebutkan bahawa hal tersebut merupakan sunnatullah dalam ciptaannya:

  “Sehingga apabila Para Rasul tidak mempunyai harapan lagi (tentang keimanan mereka) dan telah meyakini bahawa mereka telah didustakan, datanglah kepada Para Rasul itu pertolongan Kami, lalu diselamatkan orang-orang yang Kami kehendaki. dan tidak dapat ditolak siksa Kami dari pada orang-orang yang berdosa”. (Yusuf:110)

 Seruan!!

Wahai umat Islam…

Merubah satu kondisi tidaklah mustahil, dihadapan kalian adalah taujih robbani (Al-Qur’an Al-Karim) yang selalu mengingatkan kalian dengannya bulan Ramadhan, kalian berbuatlah agar kalian menggapai kemenangan dan keberuntungan, dan dihadapan kalian sejarah perjalanan insan yang sempurna yang melaluinya telah menyelamatkan dunia yaitu Nabi Muhammad saw; kerana ikutilah jejak langkahnya agar kalian mendapat rahmat, dan dihadapan kalian juga ada “Ikhwanul Muslimin” yang selalu menyeru untuk kembali kepada kitabullah dan mengikuti jejak langkah sirah Rasulullah melalui kitab ini, kerana itu tidak ada alasan bagi setiap orang setelah ini akan hakikat ini.

 “Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya”. (Yusuf:21)

 Selawat dan salam semoga tercurah atas baginda Muhammad saw, beserta keluarganya dan para sahabatnya. Dan segala puji hanya milik Allah Tuhan semesta alam.

Risalah dari Syeikh Dr Muhammad Mahdi Akif, Mursyid Am Ikhwanul Muslimin

Bahawa dunia Islam saat ini sedang mengalami hari-hari yang memilukan, period yang terpisah jauh dengan sejarah perjalanan masa lalunya, dan pada kondisi ini, banyak terjadi apa yang direncanakan dan dialami baik pada waktu malam dan siang harinya; terutama sejak zionis berfikir untuk menjadikan bumi Palestin sebagai negara bagi mereka, dengan didukung oleh Barat, dan sejak mereka menanamkan racun dalam tubuh umat Islam sehingga ujian pun terus datang silih berganti, kerana itulah perang tidak pernah berhenti dan berlalu; (seperti tahun 1956-1967-1973, pembantaian di Lebanon pada tahun 1982, perang di Afganistan tahun 1979, penjajahan Iraq tahun 2003, perang di Lebanon 2006, dan bumi hangus Gaza tahun 2008-2009), sebagaimana diselingi akan dosa-dosa yang begitu besar adanya usaha melakukan pembakaran masjid Al-Aqsha pada waktu sebelumnya, dan berusaha untuk menghancurkannya guna mendirikan Haikal di bawah reruntuhannya.

Kemudian kejahatan lebih besar juga datang dengan adanya tekanan Amerika akan pentingnya pengakuan terhadap keberadaan Yahudi sebagai negara Zionis oleh dunia secara umum dan negara-negara Arab secara khusus… sampai mereka mengutamakan menjadikan dua Palestin dengan negara-negara kecil sebagai bentuk daerah yang tidak memiliki pemimpin dan warga terpisah.

Mereka semua berusaha membangun dan mendirikan negara Yahudi sebagai duri di tubuh Bangsa Arab dan umat Islam, dan pada waktu yang sama mereka berusaha menghapus simbol-simbol Islam dari undang-undang negara Islam. Namun ironinya, dari majoriti negara Islam yang ada, tidak berfikir untuk membangun Islam hidup kembali dengan sepenuhnya melalui nilai-nilai, akhlaq, syariat serta karakternya kecuali mereka berusaha untuk memendam dan mengubur fikrah tersebut dalam buaiannya… sekalipun zionis pergi ke kanan dan ke kiri namun tidak mendapatkan api perang yang dapat dikobarkan kecuali diatas bumi umat Islam… Palestin yang tercinta, Iraq yang terluka, Afghanistan yang terus menderita akibat parang yang tak kunjung akhir, serta Somalia yang terus bergelora.. Sudan, Pakistan, Kashmir dan lain-lainnya.

Ini baru dari satu sisi, sementara dari sisi lain kita melihat bahawa negeri-negeri Islam sedang tertimpa kegelapan (kezaliman) secara signifikan, kediktatoran yang menggejala, kebebasan yang terpasung, pemerintah yang hidup dalam kemewahan, di tengah bangsa dan umatnya yang menderita akibat kemiskinan dan kenestapaan, kebodohan yang mengakar, penyakit yang kronis, sehingga kehidupan perekonomian hancur dan projek-projek ekonomi negara seakan menjadi bahagian dari kapitalisme asing, pengangguran kian meningkat, sementara tarbiyah dan ta’lim dengan berbagai lembaga-lembaganya tidak mampu memberikan pengajaran dan pendidikan maksima, begitu pula dengan lembaga-lembaga kesihatan tidak menjadi bahagian untuk memberikan peranannya.

Ditambah pula jika kita menolehkan wajah ke bahagian lain, maka apa yang kita dapatkan; keadilan di kebiri, kemaksiatan dan kejahatan maharajalela, kemungkaran menjadi bahagian yang biasa, sementara kemuliaan dihiraukan, nilai-nilai yang murni yang menjadi bahagian dari kehidupan umat Islam hampir saja punah, dan berusaha diganti dengan nilai-nilai yang mereka buat sendiri sehingga tidak menambah kebaikan kecuali kehinaan dan kehancuran.

• ini semua menggugat kita untuk berfikir bagaimana caranya memberikan solusi yang benar dan tepat bagi negara kita?

• Bagaimana caranya mengembalikan kemuliaan kita dan menjadikan kita memiliki satu kata dalam negeri kita?

• Bahkan bagaimana caranya membentuk kesatuan umat yang tegak berdiri diatas risalah Islam, mampu menunaikan tugasnya dalam menyebarkan keadilan, rahmat, kemerdekaan dan persamaan sesama umat manusia?!

Konstitusi Global untuk melakukan perubahan

Bahawa Allah SWT telah menetapkan dalam kitab-Nya yang mulia akan konstitusi global dalam rangka melakukan perubahan; seperti dalam firman Allah:

 “Sesungguhnya Allah tidak merubah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”. (Ar-Ra’ad:11)

dan Allah juga berfirman:

 “Yang demikian itu adalah kerana Sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu merubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui”. (Al-Anfal:53)

Jadi titik tolak untuk melakukan suatu perubahan itu adalah diri manusia itu sendiri, kerana jika jiwa tersebut mengenal Tuhannya, baik jiwanya dan lurus pada syariat-Nya maka niscaya Allah akan memuliakannya dan memberikannya kejayaan:

 “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahawa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diredhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan aku. dan Barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang fasik”. (An-Nuur:55)

Namun jika jiwa berbalik dari arahnya, mengingkari syariat Tuhannya, berpecah belah menjadi berkelompok dan berparti-parti; maka kegagalan akan ditemui pada masa depannya, lemah kekuatannya dan pada selanjutnya akan hilanglah kemuliaan dan jati dirinya:

 “Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”. (Al-Anfal:46)

Dan sejarah menjadi saksi akan kebenaran konstitusi ini, bahawa Arab sebelum Islam merupakan kabilah-kabilah yang terpecah belah, saling perang, saling melakukan pembunuhan, kiblat mereka terbagi pada Persia dan Romawi, namun setelah Islam datang, maka yang terpecah menjadi bersatu, yang saling membunuh dan perang menjadi baik dan saling damai, dan mereka menjadi satu umat: Allah Tuhannya, Muhammad Rasul dan nabinya, Al-Qur’an kitabnya, Kiblat arah ibadahnya, serta menjadikan mereka dalam satu barisan; baik dalam shalat dan menghadapi musuh, bahkan mampu menyatukan Arab, Persia, Romawi, Habsyah, warna kulit putih dan hitam, yang kaya dan miskin.

Tubuh yang baru ini bagi Umat Islam mampu dalam seperempat abad menyebarkan keadilannya dan rahmatnya, membersihkan manusia dari kejahatan dan kebiadaban Persia dan memberikan kepada manusia akan kebebasannya:

 “Maka barangsiapa yang berkehendak, maka hendaklah beriman dan barangsiapa yang ingin silahkah ingkar” (Al-ahfi:29)

“Tidak ada paksaan dalam agama Islam”. (Al-Baqarah:256

 “Dan Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka Apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya ?” (Yunus:99)

Dan jadilah kepemimpinan dan kekuasaan untuk mereka pada masa dan abad yang lama. Namun ketika hubungan mereka dengan Islam merenggang dan jauh; tampak ditengah mereka perpecahan parsialisme; oleh kerana ketamakan orang-orang yang ada didalamnya terutama mereka yang senang merampas dan menjajah, mengambil segala kekayaannya, dan pada akhirnya Al-Aqsha jatuh ke tangan-tangan mereka pada tahun 492 H, dan ketika Allah SWT berkehendak untuk mengembalikan lagi, maka diutuslah dari orang pilihan umat Islam yang mampu menyatukan antara Mesir dan Syam, dan memiliki semangat yang penuh dan hubungan yang kuat kepada Allah, seperti yang dilakukan oleh Shalahuddin Al-Ayyubi yang mampu mengembalikan Al-Quds dan masjid Al-Aqsha pada tahun 582 H ke pangkuan umat Islam.

Dan pada hari ke sepuluh dari bulan ramadhan, ketika para tentara Allah bergerak sambil mengumandangkan takbir Allah Akbar, Allah memberikan kekuatan kepada mereka untuk dapat melintasi terusan Suez dan memasuki kota Sinai.. begitupun pada perang Al-Furqan terakhir kali di Gaza juga mampu memukul mundur zionis sehingga mereka mengalami kehinaan kerana tidak mendapatkan keinginan sedikitpun..

 “Dan Sunnguh Allah akan menolong orang-orang yang menolong-Nya, kerana sesungguhnya Allah Maka Kuat dan Maha Perkasa”. (Al-Hajj:40)

Risalah dari Syeikh Dr Muhammad Mahdi Akif

Bismillah dan segala puji hanya milik Allah, dan selawat dan salam atas Rasulullah saw, beserta keluarga dan para sahabatnya serta orang-orang yang mendukungnya, selanjutnya..

Ada diantara Umat Islam ketika mendapatkan kesempatan bertemu dengan bulan Ramadhan selalu menggunakan kesempatan yang berharga tersebut untuk mendapatkan kemenangan dan dua kebaikan; dunia dan akhirat, dan tidak ketinggalan untuk dapat menanamkan pelaburan terhadap apa yang telah Allah gelarkan kepada mereka menuju sebab-sebab kebaikan, kerana itu Anda akan mendapati mereka pada bulan Ramadhan yang penuh kebaikan; pada siang harinya memakmurkannya dengan puasa dan pada malam harinya dengan qiyam, berlomba menjaga waktu; berkompetisi dalam berzikir, membaca Al-Qur’an dan berbagai ketaatan lainnya, memenuhi panggilan Rasulullah saw:

“Telah datang pada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh keberkahan, di dalamnya terdapat kebaikan yang meliputi kalian kerana Allah (ada di dalamnya), maka turunlah rahmat, berguguran segala kesalahan dan dosa, di dalamnya doa dikabulkan, maka Allah melihat semangat berlomba kalian, dan para malaikat sangat dengan kalian, maka perlihatkan di hadapan Allah yang terbaik dari jiwa-jiwa kalian, kerana sesungguhnya celaka bagi siapa yang diharamkan di dalamnya rahmat Allah SWT” (Thabrani)

Dan  Ikhwanul Muslimin memberikan tahniah (ucapan selamat) kepada umat Islam yang berada di berbagai penjuru dunia di Timur dan Barat akan hadirnya bulan yang mulia ini, mengajak mereka untuk memanfaatkan darinya sebagai madrasah satu bulan menuju ketaqwaan. Kerana itu  disini saya ingin menyampaikan beberapa pelajaran, semoga dapat memberikan manfaat kepada kita:

 1. Ramadhan: bulan puasa (menahan diri) dari berbagai kemaksiatan

Para pemilik azimah yang kuat tentunya menyedari bahawa puasa merupakan tarbiyah yang sangat berharga dan mulia, ia merupakan pusat pelatihan yang lembut akan sifat kesabaran dan menahan amarah, dan bahawasanya puasa bukan hanya pada satu tujuan menahan raga dari rasa haus dan lapar belaka, namun termasuk hal-hal yang mengiringinya akan kekuatan keinginan dan kehendak, kemuliaan akhlaq dan perilaku serta kesucian jiwa, menjauhkan dominasi syahwat, mengekang jiwa  amarah bissu (selalu mengajak pada yang buruk) menuju jiwa yang muthmainnah (yang tenang); dengan pengertian bahawa puasa merupakan  penjaga dari terjerumusnya jiwa pada perbuatan maksiat, pemelihara dari hal-hal yang dapat menyakitinya; dari nafsu syahwat dan kejahatan lainnya dari berbagai ucapan dan perbuatan yang tidak layak, sekalipun orang lain memusuhinya dengan ucapan atau perbuatannya, sesuai dengan apa yang disampaikan oleh nabi saw:

 “Dan puasa adalah perisai, kerana itu jika salah seorang dari kalian berpuasa maka jangan berkata kotor dan berteriak, jika ada seseorang yang mencelanya atau mengajak berkelahi maka katakanlah saya sedang berpuasa”. (Nasa’i)

 Dan juga disebutkan dalam hadits nabi saw yang lainnya:

 “Tingkatkanlah puasa; sesungguhnya puasa bukan hanya dari menahan dari makan dan minum saja, namun ia merupakan sarana menahan diri dari maksiat, dan jika salah seorang dari kalian berpuasa, lalu ada yang mengejeknya atau mencelanya, maka cukuplah ia mengatakan: saya sedang berpuasa”. (Muttafaq alaih)

 Dan nabi saw juga bersabda:

 “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan, memahami batasan-batasannya, dan menjaga hal-hal yang harus dijaga maka akan berguguran kesalahan yang sebelumnya”. (di shahihkan oleh Ibnu Hibban).

 Dan jika tidak mencapai hal demikian maka Allah sama sekali tidak akan melihat puasanya dan tidak akan menerimanya, seperti yang disebutkan dalam hadits nabi saw:

 “Betapa banyak –atau berapa banyak dari- orang yang berpuasa, nasibnya dari puasanya hanya menahan lapar dan haus belaka, dan betapa banyak –atau berapa banyak dari- orang yang menunaikan qiyam, nasib dari qiyamnya hanyalah rasa letih saja”. (Ahmad dan dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah).

 Dan nabi saw juga bersabda:

 “Barangsiapa yang tidak mampu meninggalkan ucapan kotor dan dia melakukannya, maka Allah sama sekali tidak memerlukannya meninggalkan makan dan minumnya”. (Bukhari).

 Dan dari sini, imam Jabir bin Abdullah menasihati kita dengan ungkapannya:

 “Jika Anda berpuasa, maka hendaknya telinga, mata, lisan juga ikut berpuasa dari dusta dan hal-hal yang diharamkan, tinggalkan sesuatu yang menyakiti peribadi, dan jadikanlah dirimu teduh dan tenang pada saat berpuasa, dan jangan jadikan saat tidak berpuasa dan pada saat berpuasa dirimu sama”.

 Merenunglah bersama saya bagaimana jadinya keadaan dunia sekiranya puasa yang diinginkan Allah dapat terwujud dalam kehidupan umat manusia seluruhnya, atau pada kehidupan umat Islam itu sendiri..!!  Niscaya akan mampu membersihkan jiwa dari berbagai kotoran dan keburukannya, mencetaknya pada akhlaq yang mulia dalam melintasi jalan kehidupan selama satu tahun penuh, masanya hanya 30 hari; mampu memberikan ke dalam hari dengan bekal kesabaran, keteguhan, azam, dan kekuatan kehendak, mewujudkan akan makna dan nilai taqwa yang dijadikan oleh Allah sebagai tujuan utama pada kewajiban yang penuh berkah ini

 “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa”. (Al-Baqarah:183)

 Kerana itu, adakah yang mahu menyedari akan makna ini dari para pemilik hati yang beriman dan hidup, memintal akan perilaku para shalihin dahulu, mengisi dunia dengan cahaya, kedamaian dan keberkahan, menyebarkan di dalamnya akhlaq yang bersih dan murni, nilai-nilai kebenaran, keadilan dan persaudaraan, sehingga dapat mewujudkan akan kemenangan, kemuliaan dan kejayaan?!

 Dan apakah ada yang memperhatikan nilai-nilai ini oleh mereka yang menjadikan ghirah mereka memenangkan kebatilan, ucapan palsu, melontarkan aib kepada orang yang tidak berdosa, menekan orang-orang shalih, sehingga mereka mau menarik dan meninjau ulang perbuatan dan sikap mereka, memperbaiki langkah dan manuver mereka, membentangkan tangan mereka untuk bekerja sama dengan para mukhlisin; sehingga dapat mewujudkan kepada umat hal-hal yang layak dengannya dari berbagai kedudukan dan kemuliaan di muka bumi ini?!!

 2. Ramadhan; bulan persatuan dan gotong royong

Persatuan merupakan syiar umat ini

“Sesungguhnya umat ini (Islam) adalah umat yang satu”. (Al-Anbiya:92)

dan syariat Islam yang suci selalu mengajak umat akan persatuan dengan berbagai cara, dan jika ditinjau pada berbagai ibadah yang telah diwajibkan Allah atas hamba-hamba-Nya akan memahami dengan yakin bahawasanya kesatuan ibadah dan keikhlasan ubudiyah kerana Allah merupakan inti untuk mewujudkan persatuan umat, dan puasa memberikan peran yang sangat besar akan hal tersebut, kerana seluruhnya dimulai dari berpuasa; diawali dengan azan pada saat fajar, berbuka pada saat beduk Maghrib, seluruhnya bergerak dalam rangka menghidupkan malam harinya dengan qiyam, ditambah pula dengan tuntutan puasa dalam penyatuan perasaan dan fikrah (wawasan).

 Imam Ar-Rafi’I berkata: “puasa merupakan sarana pemaksaan diri untuk bersikap miskin yang diwajibkan atas umat manusia; guna menyamakan perasaan di perut mereka, baik orang mereka yang memiliki harta sebanyak satu juta dinar sekalipun, atau orang yang memiliki uang hanya satu qirs saja, atau juga orang yang sedikitpun tidak memiliki uang… pemaksaan diri untuk bersikap miskin yang bertujuan untuk memberikan perasaan jiwa kemanusiaan dengan cara jelas bahawa setelah kehidupan ini ada dibelakangnya kehidupan lainnya, bukan sia-sia, dan hal ini akan sempurna pada saat manusia berada dalam satu perasaan, bukan berpecah belah, saling bersimpati dan empati serta mengasihi bukan bertegang kerana mengikuti dominasi hawa nafsu yang beragam jumlahnya. Dengan inilah umat manusia diposisikan pada kondisi jiwa yang satu, jiwa yang menyatu dari penjuru timur hingga barat, menampilkan dalam satu jenis insaniyah akan kesatuan suara ruhiyah, mengajarkan akan rahmat dan menyeru kepada-Nya, sehingga dapat menebarkan dari kondisi lapar ini fikrah tertentu yaitu kebersamaan dalam kebenaran”.

 Betapa saat ini umat Islam sangat membutuhkan akan nilai-nilai yang agung ini, oleh kerana telah dicabik-cabik dari perilaku musuh dan berlimpah ruahnya kebodohan, berlimangnya tangan-tangan yang penuh dosa yang tidak pernah berhenti –sekalipun kadang mau juga menyerah walau hanya sesaat- dari menumpahkan darah  yang mulia di berbagai tempat dari tubuh-tubuh umat Islam; baik di Palestina sebagai jantung Arab dan nadi umat Islam, di Yaman tempat yang penuh iman dan hikmat, di Iraq sebagai bumi sejarah dan peradaban, di Sudan yang mulia, di Benua Afrika; Somalia, Afghanistan, Pakistan, Turkistan Timur dan lain-lainnya di berbagai tempat umat Islam yang sedang menderita.

 Kerana itulah, Ikhwanul Muslimin menjadikan bulan Ramadhan tahun ini sebagai harapan dan tanda akan munculnya cita-cita bagi umat Islam dan bagi bangsa Arab untuk saling gotong royong dan bantu membantu guna menyatukan visi dari berbagai permasalahan yang dihadapi, guna menghentikan darah yang mengalir dan mengobati luka yang menganga, mengislah perpecahan yang telah mencerai beraikan anak-anak bangsa yang berada dalam satu negeri, dan memisahkan antara anak-anak yang berada dalam satu negara dan satu umat.

 Dan Ikhwanul Muslimin juga menyeru kepada seluruh pemilik jiwa yang merdeka dan para pembuat keputusan untuk dunia Islam; untuk senantiasa berkontribusi semampunya dalam rangka melakukan perbaikan dan islah antara orang-orang dan umat yang sedang bertikai, mendekatkan lagi orang-orang yang telah berpisah dan berjauhan, bekerja keras untuk menentukan sikap Arab dan Islam yang satu demi mengembalikan umat akan  kewibawaannya, kemuliaannya dan eksistensinya dihadapan seluruh umat manusia.

 3. Ramadhan; bulan penuh cita-cita dan penghapus keputusasaan

Pada bulan yang penuh berkah ini telah banyak kemenangan-kemenangan besar dalam sejarah umat yang diraih; dimulai dari hari al-furqan, penaklukan kota Mekah, hingga kemenangan pada hari ke sepuluh pada bulan Ramadhan atas Zionis, kebebasan berkehendak umat Islam dari melepaskan rasa takut, putus asa, dan menyerah. Hal ini diketahui oleh kerana adanya kesabaran sebagai hasil dari puasa, dan bahawasanya kesabaran merupakan kunci kesuksesan, dan seiring dengan kesulitan ada dua kemudahan: Allah SWT menurunkan atas nabi-Nya di kota Mekah:

 “Golongan itu pasti akan dikalahkan dan mereka akan mundur ke belakang”. (Al-Qomar:45) maka Umar bin Khattab bertanya kepada Rasulullah: Wahai Rasul apa yang dimaksud dengan golongan itu? hal itu sebelum Badr, nabi saw bersabda: maka ketika terjadi pada hari Badr dan Quraisy mampu dikalahkan, saya melihat ke Rasulullah saw pada bekas-bekas mereka terhunus dengan pedang, maka dia berkata: “Golongan itu pasti akan dikalahkan dan mereka akan mundur ke belakang”., dan pada saat itu adalah terjadi perang Badar.

 Sekumpulan orang-orang Quraisy tidak pernah menduga jika kelompok mereka akan mundur kebelakang, dan Mekah Al-Mukarramah akan di taklukkan oleh para Muhajirin dan Anshar, dan bahawasanya kalimat (agama) Allah akan naik menjadi tinggi dan mulia setelah nabi saw bersembunyi di Gua, namun orang-orang beriman yang setia terus menunggu akan realisasi dan perwujudan janji-janji Allah berupa kemenangan; meyakini akan realisasi semua itu setelah nabi saw berkata:

 “Sungguh agama ini akan sampai sebagai sampainya malam dan siang, sehingga masuk ke Baitul Madar, sehingga Allah memuliakan Islam dengannya dan menghinakan kekufuran”. (Thabrani)

 Sebagaimana kebanyakan dari kaum Salib tidak menyangka bahawa mereka akan keluar dari Syam, kemudian keluar dari Baitul Maqdis, setelah mereka menguasainya dalam kurun waktu yang panjang dan lama, namun Salahudin dan orang-orang yang berada dibelakangnya dari para prajurit iman sangat percaya akan cita-cita yang kuat untuk bisa membersihkan Baitul Maqdis dan pusat kota Syam dari berbagai bekas permusuhan, dan hal tersebut mampu terwujud pada bulan Ramadhan.

 Sementara itu, bulan Ramadhan dan puasa bekerja sesuai dengan fungsinya pada umat yang sedang berlumuran dosa, dan masih saja (madrasah 30 hari ini) mengeluarkan orang-orang yang merdeka yang tidak peduli dengan apa yang dihadapi dalam rangka menyebarkan agama mereka dan mengembalikan kemuliaan negerinya, berusaha menghentikan kejahatan dengan tangan mereka dan lisan mereka, sekalipun mereka harus menghadapi kezhaliman dari kerabat dekat mereka dan anak bangsa mereka sendiri dan dari pemimpin diktator dan sebagian para penulis yang loyal kepada mereka.

 Dan kezaliman dari kerabat dekat lebih keras gigitannya

Terhadap jiwa daripada yang dilakukan oleh orang lain

 Dan masih saja madrasah Ramadhan ini mampu mengeluarkan para pahlawan yang berani melawan dan menggetarkan musuh; seperti batalyon al-qassam, brigade al-quds, batalyon al-aqsha, dan yang lainnya dari para mujahidin yang tidak pernah putus akan cita-cita dan angan-angan umat yang berada bersama mereka walau hanya satu hari dalam mewujudkan kemenangan dan kejayaan, dan bahawasanya mereka adalah merupakan janji baru seiring dengan adanya daurah (pelatihan) baru pada madrasah shaum ini; guna meningkatkan jiwa dan ruh sehingga dapat memancar sinar dan lebih ceria; memperkokoh kehendak dan azam pada jiwa yang penuh dengan perasaan  tsiqah dan cita-cita akan kemenangan yang mulia

 “Lalu mereka akan menggeleng-gelengkan kepala mereka kepadamu dan berkata: “Kapan itu (akan terjadi)?” Katakanlah: “Mudah-mudahan waktu berbangkit itu dekat”. (Al-Isra:52)

 Madrasah 30 hari Ramadhan masih membentangkan para pecintanya dan pendaftarnya akan pelajaran yang bermanfaat, dan bagi kita ada yang akan kembali sebagiannya insya Allah.

Satu hari di bulan Ramadhan merupakan kesempatan yang sangat berharga untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. Oleh kerana itu, agenda yang kita maksud di sini adalah merupakan rangkaian kegiatan yang runut selama dua puluh jam, di mulai dari waktu Subuh hingga waktu Sahur hari berikutnya.

 

1. Agenda Setelah Terbit Fajar

a. Menjawab seruan azan untuk solat subuh

” الَّلهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلاَةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيْلَةَ وَالْفَضِيْلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُوْدًا الَّذِي وَعَدْتَهُ “

“Ya Allah, Tuhan pemilik seruan yang sempurna ini, solat yang telah dikumandangkan, berikanlah kepada Nabi Muhammad wasilah dan karunia, dan bangkitkanlah dia pada tempat yang terpuji seperti yang telah Engkau janjikan. (Ditashih oleh Al-Albani)

b. Menunaikan solat sunnah fajar di rumah dua rakaat

Rasulullah saw bersabda:

رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا

“Dua rakaat sunnah fajar lebih baik dari dunia dan segala isinya”. (Muslim)

وَ قَدْ قَرَأَ النَّبِيُّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ فِي رَكْعَتَي الْفَجْرِ قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُوْنَ وَقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدَ

“Nabi saw pada dua rakaat sunnah fajar membaca surat “Qul ya ayyuhal kafirun” dan “Qul huwallahu ahad”.

c. Menunaikan solat subuh berjamaah di masjid –khususnya- bagi laki-laki.

Rasulullah saw bersabda:

وَلَوْ يَعْلَمُوْنَ مَا فِي الْعَتْمَةِ وَالصُّبْحِ لأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا

“Sekiranya manusia tahu apa yang ada dalam kegelapan dan subuh maka mereka akan mendatanginya walau dalam keadaan tergopoh-gopoh” (Muttafaqun alaih)

بَشِّرِ الْمَشَّائِيْنَ فِي الظّلَمِ إِلَى الْمَسَاجِدِ بِالنُّوْرِ التَّامِّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Berikanlah kabar gembira kepada para pejalan di kegelapan menuju masjid dengan cahaya yang sempurna pada hari kiamat”. (Tirmidzi dan ibnu Majah)

d. Menyibukkan diri dengan doa, dzikir atau tilawah Al-Quran hingga waktu iqamat solat

Rasulullah saw bersabda:

الدُّعَاءُ لاَ يُرَدُّ بَيْنَ الأَذَانِ وَالإِقَامَةِ

“Doa antara adzan dan iqamat tidak akan ditolak” (Ahmad dan Tirmidzi dan Abu Daud)

e. Duduk di masjid bagi laki-laki /mushalla bagi wanita untuk berdzikir dan membaca dzikir waktu pagi

Dalam hadits nabi disebutkan:

كَانَ النَّبِيُّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” إَذَا صَلَّى الْفَجْرَ تَرَبَّعَ فِي مَجْلِسِهِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ الْحَسَنَاءُ

” Nabi saw jika selesai solat fajar duduk di tempat duduknya hingga terbit matahari yang ke kuning-kuningan”. (Muslim)

Agenda prioritas

Membaca Al-Quran.

Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya waktu fajar itu disaksikan (malaikat). (Al-Isra : 78) Dan memiliki komitmen sesuai kemampuannya untuk selalu:

- Membaca ½ hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 1 kali

- Membaca 1 hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 2 kali

- Bagi yang mampu menambah lebih banyak dari itu semua, maka akan menuai kebaikan berlimpah insya Allah.

 

2. Agenda setelah keluar dari masjid atau mushalla

a. Tidur dengan berharap ganjaran di dalamnya

Dalam atsar disebutkan, Muadz bin Jabal berkata:

إِنِّي لأَحْتَسِبُ فِي نَوْمَتِي كَمَا أَحْتَسِبُ فِي قَوْمَتِي

“Sungguh saya selalu berharap ganjaran dari Allah pada saat tidur sebagaimana saya selalu berharap ganjaran ketika berada di tengah kaumku”.

b. Menunaikan solat Dhuha walau hanya dua rakaat

Rasulullah saw bersabda:

يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنْ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنْ الضُّحَى

“Setiap ruas tulang tubuh manusia wajib dikeluarkan sedekahnya, setiap hari ketika matahari terbit. Mendamaikan antara dua orang yang berselisih adalah sedekah, menolong orang dengan membantunya menaiki kendaraan atau mengangkat kan barang ke atas kendaraannya adalah sedekah, kata-kata yang baik adalah sedekah, tiap-tiap langkahmu untuk mengerjakan solat adalah sedekah, dan membersihkan rintangan dari jalan adalah sedekah”. (Bukhari dan Muslim)

c. Berangkat kerja atau belajar dengan berharap kerana Allah

Rasulullah saw bersabda:

مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمِلِ يَدِهِ، وَكَانَ دَاوُدُ لا يَأْكُلُ إِلا مِنْ عَمِلِ يَدِهِ

“Tidaklah seseorang memakan makanan, lebih baik dari yang didapat oleh tangannya sendiri, dan bahawa nabi Daud makan dari hasil tangannya sendiri”. (Bukhari)

Dalam hadits lainnya nabi juga bersabda:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barangsiapa yang berjalan dalam rangka mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga”. (Muslim)

d. Menyibukkan diri dengan dzikir sepanjang hari

Allah berfirman :

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ketahuilah dengan berdzikir kepada Allah maka hati akan menjadi tenang” (Ra’ad : 28)

Rasulullah saw bersabda:

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللهَ أَنْ تَمُوْتَ ولسانُك رَطْبٌ من ذِكْرِ الله

“Sebaik-baik perbuatan kepada Allah adalah saat engkau mati sementara lidahmu basah dari berdzikir kepada Allah” (Thabrani dan Ibnu Hibban) .

 

3. Agenda saat solat Zhuhur

a. Menjawab azan untuk solat Zhuhur, lalu menunaikan solat Zhuhur berjamaah di Masjid khususnya bagi laki-laki

b. Menunaikan sunnah rawatib sebelum Zhuhur 4 rakaat dan 2 rakaat setelah Zhuhur

Rasulullah saw bersabda:

مَنْ صَلَّى اثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً فِي يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ بُنِيَ لَهُ بِهِنَّ بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ

“Barangsiapa yang solat 12 rakaat pada siang dan malam hari maka Allah akan membangunkan baginya dengannya rumah di surga”. (Muslim).

 

4. Agenda saat dan setelah solat Ashar

a. Menjawab azan untuk solat Ashar, kemudian dilanjutkan dengan menunaikan solat Ashar secara berjamaah di masjid

b. Mendengarkan nasihat di masjid (jika ada)

Rasulullah saw bersabda:

مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ لا يُرِيدُ إِلا أَنْ يَتَعَلَّمَ خَيْرًا أَوْ يَعْلَمَهُ، كَانَ لَهُ كَأَجْرِ حَاجٍّ تَامًّا حِجَّتُهُ

“Barangsiapa yang pergi ke masjid tidak menginginkan yang lain kecuali belajar kebaikan atau mengajarkannya, maka baginya ganjaran haji secara sempurna”. (Thabrani – hasan shahih)

c. Istirahat sejenak dengan niat yang kerana Allah

Rasulullah saw bersabda:

وَإِنَّ لِبَدَنِكَ عَلَيْكَ حَقٌّ

“Sesungguhnya bagi setiap tubuh atasmu ada haknya”.

Agenda prioritas:

Membaca Al-Quran dan berkomitmen semampunya untuk:

- Membaca ½ hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 1 kali

- Membaca 1 hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 2 kali

- Bagi yang mampu menambah sesuai kemampuan, maka akan menuai kebaikan yang berlimpah insya Allah.

 

5. Agenda sebelum beduk Maghrib

a. Memperhatikan urusan rumah tangga – melakukan mudzakarah – Menghafal Al-Quran

b. Mendengarkan ceramah, nasihat, khutbah, untaian hikmah atau dakwah melalui media

c. menyediakan bantuan atau ifthar di masjid-masjid dan di tempat lainnya

d. Menyibukkan diri dengan doa

Rasulullah saw bersabda:

الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ

“Doa adalah ibadah”

 

6. Agenda setelah terbenam matahari

a. Menjawab azan untuk solat Maghrib

b. Melakukan ifthar dengan rutab (kurma basah/muda), kurma secara ganjil atau seteguk air putih dengan berharap ganjaran dan mengikuti sunnah diiringi dengan doa

Dalam hadits disebutkan:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَفْطَرَ قَالَ ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتْ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

Rasulullah saw jika berbuka selalu membaca: “Telah hilang rasa haus, dan basah tenggorokan dan ditetapkan ganjaran insya Allah”.

c. Menunaikan solat Maghrib secara berjamaah di masjid (khususnya bagi laki-laki)

d. Menunaikan solat sunnah rawatib setelah Maghrib – 2 rakaat

e. Berkumpul dengan keluarga dalam menyantap makanan berbuka diiringi dengan syukur atas sempurnanya puasa satu hari penuh

f. Membaca dzikir sore

g. Mempersiapkan diri untuk solat Isya dan sunnah tarawih dengan berwudhu dan wangi-wangian (khususnya bagi laki-laki) lalu melangkahkan kaki menuju masjid

Rasulullah saw bersabda:

مَنْ تَطَهَّرَ فِي بَيْتِهِ ثُمَّ مَشَى إِلَى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ لِيَقْضِيَ فَرِيضَةً مِنْ فَرَائِضِ اللَّهِ كَانَتْ خَطْوَتَاهُ إِحْدَاهُمَا تَحُطُّ خَطِيئَةً وَالْأُخْرَى تَرْفَعُ دَرَجَةً

“Barangsiapa yang bersuci/berwudhu kemudian berjalan menuju salah satu dari rumah-rumah Allah untuk menunaikan salah satu kewajiban dari kewajiban Allah, maka langkah-langkahnya akan menggugurkan kesalahan dan yang lainnya mengangkat derajatnya”. (Muslim)

 

7. Agenda pada waktu solat Isya

a. Menjawab azan untuk solat Isya kemudian menunaikan solat Isya secara jamaah di masjid

b. Menunaikan solat sunnah rawatib setelah Isya – 2 rakaat

c. Menunaikan solat tarawih secara berjamaah secara sempurna di dalam masjid

Rasulullah saw bersabda:

إِنَّهُ مَنْ صَلَّى مَعَ الإِِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ ، كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ

“Sesungguhnya bagi siapa yang solat bersama imam hingga selesai maka ditulis baginya seperti melakukan solat qiyam lail”. (Ahlu sunan)

d. Duduk bersama keluarga/melakukan silaturahim

e. Mendengarkan ceramah, nasihat dan untaian hikmah di Masjid

f. Dakwah melalui media atau lainnya g. Melakukan mudzakarah

h. Menghafal Al-Quran

Agenda prioritas

Membaca Al-Quran dengan berkomitmen sesuai dengan kemampuannya untuk:

- Membaca ½ hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 1 kali

- Membaca 1 hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 2 kali

- Bagi yang mampu menambah sesuai kemampuan bacaan maka telah menuai kebaikan berlimpah insya Allah.

 

8. Agenda pada sepertiga malam akhir

a. Menunaikan solat tahajjud dengan memanjangkan waktu pada saat ruku’ dan sujud di dalamnya, dan melakukan solat secara berjamaah pada 10 malam terakhir

b. Menunaikan solat witir jika belum menunaikannya secara berjamaah

c. Makan sahur dengan niat beribadah kerana Allah dan menunaikan sunnah

Rasulullah saw bersabda:

تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً

“Makan sahurlah kalian, kerana dalam sahur itu ada berkah nya”. (Muttafaqun alaih)

d. Duduk untuk berdoa dan memohon ampun kepada Allah hingga azan subuh

Rasulullah saw bersabda:

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ فَيَقُولُ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ

“Sesungguhnya Allah SWT selalu turun pada setiap malam menuju langit dunia saat 1/3 malam terakhir, dan Dia berkata: “Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku maka akan Aku kabulkan, dan barangsiapa yang meminta kepada-Ku maka akan Aku berikan, dan barangsiapa yang memohon ampun kepada-Ku maka akan Aku ampuni”. (HR. Bukhari Muslim)

 

Ingatlah selalu:

Mengiringi niat yang baik saat melakukan pekerjaan di sepanjang hari pada bulan Ramadhan

“Barangsiapa puasa dengan iman dan berharap ridha Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya”,

“Barangsiapa melakukan qiyam dengan iman dan berharap ridha Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya”,

“Barangsiapa yang melaukan i’tikaf dengan iman dan berharap ridha Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya”,

“Barangsiapa yang mendapatkan lailatul qadar dengan iman dan berharap ridha Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya”

Apa yang kita jelaskan di sini merupakan contoh, sehingga tidak harus sama persis dengan yang kami sampaikan, kondisional tergantung masing-masing individu. Semoga ikhtiar ini bisa memandu kita untuk optimalisasi ibadah Ramadhan insya Allah. Allahu a’lam

Syeikh Yusuf Al-Qaradhawi

Setiap pendidikan disesuaikan sistemnya dengan tujuan yang hendak dicapai, sehingga dalam pemeliharaan haiwan peliharaan, sapi perahan untuk mendapatkan susu berbeza dengan pemeliharaan sapi untuk memperoleh daging, begitu pula berbeza dengan pemeliharaan sapi untuk keperluan membajak tanah.

Begitu pula manusia dan pendidikan.

Pendidikan manusia individualistic berbeza dengan pendidikan manusia komunis, keduanya berbeza dengan pendidikan manusia kapitalis dan semuanya berbeza dengan pendidikan manusia muslim. Pendidikan Muslim yang bersifat tradisional berbeza dengan pendidikan muslim yang kreatif (ijabi) . . . Pendidikan muslim dalam masyarakat yang diatur oleh Al Qur-an dan di dalamnya ajaran-ajaran Islam diamalkan secara majoriti, berbeza dengan pendidikan muslim dalam masyarakat yang di dalamnya idea jahiliyah dan idea Islam saling bertarung, begitu pula kekafiran dan keimanan, keingkaran dan ketaatan saling berebut pengaruh di dalamnya.

Memang, pendidikan muslim yang memandang cukup mengambil dari Islam ibadahnya saja seperti salat, puasa, zikir dan doa sedang apabila dikemukakan kepadanya keadaan Islam dan kaum muslimin maka ia hanya sanggup mengatakan: apa daya kita sudah demikian ketentuan Tuhan, tidaklah sama dengan pendidikan muslim yang dadanya bergejolak kerana ghairah terhadap Islam bagai gejolak air mendidih di atas tungku dan hatinya lebur kerana prihatin terhadap keadaan kaum muslimin bagai leburnya garam di dalam air, kemudian keprihatinan dan keghairahan itu menjelma menjadi kekuatan yang mendorongnya berusaha mengadakan perubahan dan perbaikan.

Inilah muslim yang dicita-citakan,

Yang tidak menyerah pada kenyataan bahkan bekerja dan berusaha merubahnya sebagaimana diperintahkan oleh Allah. Dia tidak mencari-cari alasan dengan dalih qadha dan qadar dan takdirNya yang tidak bisa ditolak. Dia adalah muslim yang bekerja untuk menegakkan agama, membangun umat dan menghidupkan kebudayaan dan peradaban.

 “Itulah suatu risalah yang jangkauan waktunya sampai ke akhir zaman, jangkauan ruangnya meliputi seluruh umat manusia dan jangkauan kedalamannya mencakup segala urusan dunia dan akhirat.”

Itulah umat yang telah diistimewakan Allah dengan mengurniakan kepadanya sebaik-baik Kitab yang diturunkanNya (Al Qur-an) dan sebesar-besar Nabi yang diutusNya (Muhammad SAW). Allah telah melahirkannya sebagai umat terbaik bagi manusia, menjadikannya umat pertengahan dalam segala hal dan menjadikannya umat yang patut menjadi guru dan saksi atas kebenaran Islam terhadap manusia seluruhnya. Itulah kebudayaan yang berdasarkan Ketuhanan, manusiawi, universal dan bermoral, yang mempersatukan ilmu dengan iman, kebendaan dengan ruh, memperhatikan keseimbangan antara dunia dan akhirat dan memelihara harakat dan kemuliaan manusia.

Pendidikan Ikhwanul Muslimin

Pendidikan muslim seperti inilah yang menjadi tujuan pertama bagi gerakan Ikhwanul Muslimin, kerana itulah satu-satunya dasar perubahan serta tumpuan kebaikan dan perbaikan. Tidak ada cita-cita untuk memulai kehidupan Islam yang baru atau mendirikan ini negara Islam atau menyesuaikan undangundang Islam dengan undang-undang lainnya.

Pendidikan Islam menurut pengertian Ikhwanul Muslimin dan penerapannya mempunyai ciri-ciri khas yang menonjol, yang terpenting ialah :

1. Tekanan pada segi Ketuhanan,

2. Sempurna dan lengkap,

3. Keserasian dan keseimbangan,

4. Bersifat kreatif dan membina,

5. Persaudaraan dan kesetiakawanan.

6. Beridentiti dan berdikari.

Di sini kami akan berusaha membicarakan masing-masing ciri itu secara khusus sejauh tempat mengizinkan dan kepada Allah kami mohonkan taufikNya.

Syeikh Yusuf al Qaradhawi

 

Jelas bagi orang yang mengadakan kajian atau peninjauan, bahawa gerakan Ikhwanul Muslimin sejak permulaannya telah membangun Madrasah Teladan bagi pendidikan Islam yang benar-benar berhasil. Masalah penting yang telah diwujudkannya ialah membentuk generasi muslim yang baru, yang memahami Islam dengan tepat dan bekerja untuk dirinya dan keluarganya serta berjuang menegakkan agama Allah, merealisir ajarannya dan mempersatukan umatnya.

 

Faktor-faktor Yang Mendokong Keberhasilan

 

1. Iman yang tak tergoyahkan bahawa pendidikan adalah satu-satunya jalan untuk merubah masyarakat, membentuk pemimpin dan mewujudkan cita-cita. Pemimpin gerakan itu, Hasan Al-Banna, menyedari bahawa pendidikan itu jalannya panjang dan kesulitannya banyak. Hanya sedikit orang yang sabar menempuh jalannya yang panjang dan kesulitannya yang banyak, iaitu orang yang berkemahuan keras. Tetapi Hasan Al-Banna yakin pula bahawa pendidikan itu satu-satunya jalan yang dapat menyampaikannya kepada tujuan dan tidak ada jalan lain lagi. Itulah jalan yang ditempuh oleh Nabi SAW untuk membentuk generasi teladan yang diridhai Tuhan, yang tidak pernah disaksikan bandingannya oleh dunia. Mereka inilah yang melaksanakan pendidikan bagi berbagai bangsa dan mengarahkannya kepada kebenarah dan kebaikan.

 

2. Rencana pendidikan mempunyai tujuan tertentu, langkah-langkah yang jelas, sumber yang terang, bahagian-bahagian yang saling mendukung, dengan sistem beraneka ragam dan ditegakkan atas falsafah yang jelas, digali dari ajaran Islam bukan dari ajaran lainnya.

 

3. Suasana kebersamaan yang positif, yang dibina oleh jamaah. Hal itu akan membantu setiap anggotanya untuk hidup secara Islam, melalui sugesti (nasihat), contoh teladan, persamaan perasaan dan tindakan. Manusia menjadi lemah bila menyendiri dan menjadi kuat dengan jamaahnya. Jamaah merupakan kekuatan untuk menegakkan kebaikan dan ketaatan serta merupakan perisai terhadap kejahatan dan maksiat. Dalam hadith tersebut: “Pertolongan Allah diberikan kepada Jamaah “; “Serigala hanya memakan kambing yang tersisih dari kawanannya.”

 

4. Pemimpin yang mendidik dengan bakat, ilmu dan pengalamannya yang dianugerahkan kepadanya kekuatan iman yang luar biasa, membekas pada setiap hati orang yang berhubungan dengannya, melimpah dari hatinya ke hati orang-orang di sekitamya. Dia seperti dinamo yang dari kekuatannya hati mereka diisi dengan “kekuatan” Kata-kata bila keluar dari hati langsung masuk ke hati para pendengarnya tanpa memerlukan keizinan, tetapi bila keluar hanya dari lidah maka pengaruhnya tidak akan melampaui telinga. Orang yang memiliki hati yang hiduplah yang dapat mempengaruhi pendengar dan pengikutnya. Sedangkan orang yang mempunyai hati yang mati tidaklah mampu menghidupkan hati orang lain. Sebab orang yang tidak memiliki sesuatu tidak dapat memberikannya kepada orang lain dan wanita yang tidur tidak sama dengan wanita yang kehilangan anak.

 

5. Adalah sejumlah pendidik yang ikhlas, kuat dan terpercaya yang meyakini jalan yang dibentangkan oleh pimpinan. Mereka mempunyai pengaruh terhadap murid-muridnya dan mereka ini menjadi pendidik – pendidik bagi generasi sesudahnya, demikianlah seterusnya. Dengan para pendidik di sini tidaklah saya maksudkan alumni Perguruan Tinggi Ilmu Pendidikan atau pemegang ijazah Majester (MA) dan Doktor dalam pendidikan. Yang saya maksudkan ialah orang yang memiliki “kualiti” iman yang tinggi, kekuatan jiwa, keberanian hati, kekerasan kemahuan, kelapangan dada dan kesanggupan mempengaruhi orang lain. Mungkin mereka seorang jurutera atau pegawai rendahan atau pedagang atau buruh, diantara orang-orang yang tidak

mempelajari dasar-dasar pendidikan atau sistemnya.

 

6. Cara pelaksanaan yang bermacam-macam, yang bersifat peribadi, yang bersifat kelompok, yang bersifat teori, yang bersifat praktikal, yang bersifat pemikiran, yang bersifat perasaan, yang berbentuk perintah dan yang berbentuk larangan semua itu dilaksanakan dalam bentuk pelajaran, ceramah, seminar, diskusi dan pendekatan peribadi, begitu pula syairsyair yang dihafal, bacaan-bacaan yang diulang-ulang, nyanyian-nyanyian dengan kata-kata, irama dan lagunya mempunyai pengaruh tertentu . . . pertemuan-pertemuan bergilir dari kelompok-kelompok di rumahrumah dengan acara membaca Al Qur-an, memperluas ilmu pengetahuan, ibadat dan memperkuat tali persaudaraan, semuanya itu dinamakan kelompok “keluarga” yang menanamkan perasaan cinta dan kasih sayang di antara anggota-anggota keluarga itu. Di samping itu ada pertemuan-pertemuan lain dalam lingkungan jamaah yang diadakan pada waktu malam. Tujuannya mencerdaskan akal dengan ilmu pengetahuan, membersihkan hati dengan ibadat dan menyihatkan badan dengan olahraga. Pertemuan ini dinamakan “kutaibah” (regu) yang menanamkan pengertian jihad. Selain itu masih ada sistem-sistem lain yang semuanya bertujuan membentuk manusia muslim yang sempurna.

 

Sumber: At-Tarbiyyatul Islamiyah Wa Madrasatu Hasan Al-Banna

Kenyataan Akhbar : Memperingati An-Naksah 42 tahun Masjid al-Aqsa di jajah oleh Rejim Zionis

Dalam usaha untuk terus-menerus bersama perjuangan umat Islam Palestin menentang penjajahan rejim Zionis di Israel, PACE ingin mengajak rakyat Malaysia khususnya dan dunia Islam keseluruhannya memperingati tanggal 5 Jun 1967. Tarikh dimana beberapa Negara Arab telah dikalahkan oleh rejim Zionis dalam sebuah peperangan yang dirujuk sebagai perang enam hari (six day war) atau An-Naksah (kekalahan dalam bahasa Arab) yang bermula pada 5 Jun dan berakhir pada 10 Jun 1967.

Negara-negara Arab yang terdiri dari Mesir, Syria dan Jordan mengalami kekalahan yang teruk dan kemusnahan besar-besaran di tangan tentera Israel yang dibantu oleh Amerika Syarikat. Negara-negara Arab Saudi, Iraq, Maghribi, Tunisia, Sudan dan Algeria yang turut menyumbang anggota tentera dan kelengkapan tidak mampu menahan kemaraan tentera zionis. Tidak kurang dari 10,000 tentera Mesir dan 6,000 tentera Syria terbunuh di samping 400 kapalterbang pejuang berjaya dimusnahkan, sebahagian besarnya sedang berada di pengkalan udara Mesir. Hasil dari kekalahan yang memalukan ini Israel telah berjaya menawan lembah Sinai dan jalur Gaza dari Mesir, tanah tinggi Golan dari Syria dan Baitul Maqdis Timur termasuk Kota Lama di mana terdapatnya Masjid al Aqsa dari Jordan. Masjid al-Aqsa yang digempur oleh tentera Zionis telah dicemari dengan pelbagi perbuatan biadap yang tidak selayaknya ke atas mana-mana rumah ibadah dan tempat suci.

Hari ini, sudah 42 tahun rejim Zionis menduduki Baitulmaqddis dan masjid Al-Aqsa. Meskipun Bangsa-Bangsa Bersatu telah meluluskan Resolusi 242 yang memutuskan Israel mesti berundur semula ke garis hijau (green line) iaitu sempadan negara Palestin yang mereka ambil alih pada tahun 1948, namun Israel tetap berdegil dan sehingga hari ini masih lagi menduduki Tebing Barat dan mengenakan kepungan ke atas Gaza. Perjuangan membebaskan bumi Palestin khususnya masjid Al-Aqsa bukan terletak dibahu rakyat Palestin saja, tetapi menjadi tanggungjawab seluruh umat Islam, bahkan seluruh masyarakat antarabangsa yang cinta kepada kedamaian dan keamanan.

Umat Islam khususnya diperingatkan bahawa Masjid Al-aqsa adalah kiblat pertama, tanah suci yang ketiga dan merupakan tempat persinggahan Nabi Muhammad SAW dalam perjalanan Isra’ dan Mikraj. Oleh itu perjuangan pembebasan Baitul Maqdis dan Masjid al Aqsa harus menjadi agenda utama dan terpenting dalam kehidupan umat Islam. Walaupun serangan Israel ke atas Gaza (operasi ketenteraan yang dinamakan oleh rejim Zionis dengan kod nama Operasi Cast Lead) selama 22 hari bermula 27 Disember 2008 telah berakhir, ini tidak bermakna tanggungjawab untuk membantu rakyat Palestin telah selesai. Rakyat Gaza terus menderita akibat kepungan Zionis yang direstui oleh sekutu-sekutu utamanya khususnya Amerika Syarikat dan Kesatuan Eropah. Bahkan Negara-negara Arab khususnya Mesir masih mengambil sikap menyebelahi kepentingan entiti Zionis dengan menutup satu-satunya pintu laluan ke Gaza dari negara Mesir iaitu di Rafah. Dalam keadaan terkepung dan menderita kemusnahan akibat serangan biadap Israel, rakyat Palestin di Gaza terus terabai dan dilupakan. Di samping itu rakyat Palestin di Tebing Barat terus ditindas dengan pelbagai tindakan tidak berperikemanusiaan. Ini termasuklah pembinaan tembok pemisah di sepanjang sempandang Tebing Barat yang menyukarkan pergerakan rakyat Palestin.

Kini dengan pemilihan pucuk pimpinan baru rejim Zionis yang diterajui oleh gandingan Benjamin Netanyahu, Ehud Barak dan Avigdor Lebiermen, yang mewakili kumpulan radikal Yahudi membolehkan rejim Zionis tersebut meneruskan lagi agenda pendudukan mereka ke atas wilayah Palestin. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu bukan sekadar menolak ‘two state-solution’ (penyelesaian dua negara: Palestin dan Israel) malah terus berusaha untuk menyahudikan Baitul Maqdis. Tanpa menghiraukan langsung ’teguran’ dari Amerika Syarikat-sekutu kuat Israel, Netanyahu meluluskan satu projek pembinaan penempatan Yahudi yang mengakibatkan 60,000 rumah kediaman rakyat Palestin yang terletak di timur Baitul Maqdis akan dimusnahkan. Kenyataan ini telah dikeluarkan sendiri oleh ‘The United Nations Office for the Coordination of Humanitarian Affairs( OCHA) seperti yang dilaporkan oleh Palestinian Information Center. Inilah sebahagian dari agenda jahat rejim Zionis yang sedang berlaku di bumi Palestin sekarang.

Agenda seterusnya ialah mengyahudikan Masjid Al-Aqsa. Dalam syarahan yang diberi oleh Archbishop Ataullah Hanna, dari Greeek Orthodox Jerusalem, dalam satu seminar di Jordan pada 6 Mei, beliau mengatakan:

“ The Judaification process is in full swing, and the Zionist excavations carried out under al-Aqsa Mosque of Jerusalem threaten the historic buildings”

Palestinian Information center juga turut melapurkan pada hari Sabtu, 23 Mei yang lalu, seramai 30 orang pelampau Yahudi telah menyerbu masuk ke perkarangan Masjid al-Aqsa dengan perlindungan dari polis Israel. Mereka membawa besama bendera Israel, memakai baju T yang mempunyai gambar ‘Menorah’ dan kuil yang hendak dibina dan menyanyikan lagu ‘ Al-Aqsa is Ours’ (Al-Aqsa kami yang punya).  Dalam satu lapuran lain yang di keluarkan pada 5 Mei oleh ‘The European Mission in Palestinian territories’ mengatakan bahawa pihak berkuasa Israel juga telah mula membina rumah ibadat Yahudi (synagogue) berdekatan dengan masjid Al-Aqsa.

Semua peristiwa yang berlaku sekarang di bumi Palestin khususnya pada masjid Al-Aqsa sepatutnya dapat menyedarkan dan menyatukan umat Islam seluruh dunia untuk bangun dan menentang rejim Zionis.

PACE menyeru negara-negara Islam dan negara-negara Arab khususnya untuk mengambil iktibar dari tragedi an-Naksah atau kekalahan semasa perang enam hari pada tanggal 5 Jun 1967. Umat Islam juga mesti mengambil langkah-langkah proaktif dan berstrategi bagi menamatkan pendudukan dan ke atas bumi Palestin dan Masjid Al-Aqsa.

PACE menyeru umat Islam supaya bangun dan melipat gandakan usaha untuk membebaskan masjid Al-Aqsa dari terus dicemari dan diancam oleh regim Zionis.

PACE juga mengajak seluruh masyarakat antarabangsa supaya menolak agenda pendudukan zionis yang menafikan hak rakyat Palestin, usaha keji mengyahudikan Baitul Maqdis dan mencemari tempat-tempat suci dan ibadah umat Islam dan agama Kristian yang telah dan sedang berlaku sehingga saat ini. PACE ingin mengingatkan seluruh masyarakat yang prihatin bahawa membiarkan regim perkauman zionis bermaharajalela di Palestin lambat-laun akan membawa implikasi yang buruk ke atas keharmonian dan kerukunan hidup masyarakat antarabangsa yang berbilang agama.

Prof Madya Dr Hafidzi Mohd Noor
Pengarah
PACE – Pusat Kecemerlangan Palestin

Syeikh Muhammad Abdullah al Khatib

Isu unsur-unsur tetap ini adalah perkara yang telah diputuskan semenjak turunnya al-Quran. Agama, aqidah, ibadah, neraca, kefahaman dan nilai-nilai akhlak semuanya merupakan unsur yang tetap tidak berubah. Teori musuh Islam yang berpendapat bahawa setiap sesuatu mesti menerima perubahan ialah pendapat yang bertentangan dengan tabiat alam dan sunnatullah di atas muka bumi. Beberapa unsur tetap dalam dakwah Ikhwan Muslimin, yang juga merupakan dakwah Islam yang syumul diwahyukan oleh Allah.

1-Undang-undang unsur tetap dan berubah.

Unsur tetap ialah rangka, manakala unsur berubah yang berlaku dalam rangka tersebut. Dalam Asas yang satu, bentuknya berbagai-bagai. merupakan kaedah umum. Alam ini pada umumya tidak berubah. Tetapi terdapat gerakan yang berterusan di dalamnya seperti pertukaran siang dan malam, bulan dan matahari, musim sejuk dan panas. Manusia juga pada keseluruhannya tetap, tidak berubah. Susuk tubuhnya, suara dan paras rupa tetap tidak berubah. Tetapi riak dan roman wajahnya yang berubah-ubah seperti bertukarnya nada suara.”"Falsafah hidup barat berasaskan konsep menerima sains dan menolak agama. Barat juga hanya menerima perkara yang boleh ditanggap oleh pancaindera semata-mata lalu mereka menafikan perkara ghaib. Setiap neraca dan nilai bersumberkan pancaindera manusia semata-mata. Cara gaya hidup yang diterima adalah yang berasaskan sekularisme. Oleh itu mereka hanya melihat hakikat kehidupan ini daripada satu sudut semata-mata. Mereka tidak dapat menerima kehadiran nilai ruh dan agama. Di sisi mereka antara kedua-dua unsur material dan ruh, sains dan agama tidak boleh dicampur adukkan atau digabung jalin. Sedangkan syariah Islam membawa kesemuanya itu dalam bentuk yang sempurna dan seimbang”.

 2-Muslimun dan kehidupan

Orang-orang Islam terdahulu telah mencapa kemajuan sains dan teknologi dalam bidang-bidang perubatan, maritim, pembuatan, kimia dan sebagainya . Kemajuan ini dicapai bersama nilai ruh agama yang suci, yang mengangkat kedudukan manusia kepada tahap yang mulia. Mereka beriltizam dengan ubudiah hanya kepada Allah, nilai-nilai akhlak yang tinggi dan keimanan kepada perkara-perkara ghaib, kebangkitan dan pembalasan. Kemudian datang barat yang hanya menitik beratkan sudut kebendaan semata-mata, yang mana tamadun yang mereka bina terlalu jauh daripada unsur-unsur alam ruh dan ghaib juga kebangkitan yang sudah pastinya akan berlaku krisis nilai kemanusiaan -yang mana manusia dijadikan daripada gabungan tanah dan ruh-. Kesan daripada penyelewengan ini, ianya merupakan titik permulaan kepada krisis konflik diri dan keruntuhan nilai ruhani. Yang membawa kepada kehancuran tamadun kebendaan.

 3-Islam ialah nilai yang hidup dan tamadun yang agung.

Islam merupakan pendorong jiwa yang kuat membantu manusia mendepani ujian kehidupan. Ia juga merupakan faktor keseimbangan dan kesempurnaan seseorang insan. Nilai akhlaknya tonggak kemajuan manusia sebagai khalifah dan kemakmuran muka bumi ini. “Nilai dalam Islam ada yang tetap dan ada yang berubah. Nilai yang tetap tidak boleh berubah dengan bertukarnya suasana, tempat dan zaman kerana hubungannya kuat dengan kejadian manusia yang terdiri dari ruh dan jasad, jisim dan jiwa. Nilai tetap ini berhubung dengan aqidah dan akhlak, yang kedua-duanya tegak di atas asas kemanusiaan semata-mata, tonggaknya kasih sayang, ukhuwah dan rahmat.” – Petanda Islam. Nilai yang berubah pula berbeza-beza berdasarkan perubahan masa, tempat, suasana dan tuntutan sosial. Dalam hal ini Islam jelas memberi perhatian kepada nilai-nilai kemanusiaan. Oleh sebab itu Islam mengizinkan perkahwinan, makan minum, perhiasan dan kemajuan. Dalam pada itu Islam menggariskan beberapa panduan bagi nilai kemasyarakatan seperti kesederhanaan, tidak membazir atau keterlaluan. Pendek kata Islam mengakui keperluan jasad dan jiwa manusia. Islam tidak menganggap perkara kebendaan sebagai suatu yang makruh atau dibenci atau dinafikan. Islam tidak menegah perubahan pada nilai-nilai kecil yang bersangkutan dengan suasana dan masa yang tidak menyentuh nilai-nilai yang agung yang tetap atau melanggarinya.

 4. Asas nilai-nilai dalam Islam.

Tauhid, taqwa, iman, kehormatan manusia, kebebasan, ilmu dan amal. Islam mengajak perdamaian antara kaum, persefahaman dan persaudaraan antara manusia. Islam menyeimbangkan antara kebendaan dan ruh. Jika barat hanya mengakui nilai dan neraca yang menepati kehendak dan kemahuannya, Islam pula mengakui dan menerima pakai nilai dan neraca yang bertepatan dengan perintah dan kehendak

 Allah s.w.t. Firman Allah: Maksudnya: Sesungguhnya berjayalah orang-orang yang beriman. Iaitu mereka yang khusyuk dalam sembahyangnya. Dan mereka yang menjauhkan diri daripada perbuatan dun perkataan yang sia-sia. Dan mereka yang membersihkan hartanya (dengan menunaikan zakat). Dan mereka yang menjaga kehormatan. Kecuali kepada isterinya atau hamba sahayanya, maka sesungguhnya mereka tidak tercela, Kemudian, sesiapa yang mengingini selain daripada yang demikian, maka merekalah orang-orang yang melampaui batas. Dan mereka yang menjaga amanah dan janjinya. Dan mereka yang tetap memelihara sembahyangnya. (Al Mukminun; 1-9). Ayat di atas mengemukakan susunan tahap nilai-nilai dalam Islam, mendahulukan solat, meninggalkan perbuatan sia-sia, menunaikan zakat, memelihara kemaluan  dan maruah, menjaga amanah dan perjanjian, dan menunaikan solat pada waktunya.

 5. Sesungguhnya nilai-nilai Islam yang agung tetap selama-amanya.

Ia tidak berubah dengan berubahnya masa. Yang berubah ialah ideologi-ideologi ciptaan manusia. Sebaliknya risalah langit mengajak manusia berubah dan maju sehingga mencapai tahap ketinggian dan kemuliaannya. Oleh kerana itu segala yang boleh merosakkan dan menjatuhkan martabat manusia diharamkan Islam. Islam mengharamkan riba, zina, arak, judi, bangkai, daging babi, pembunuhan dan perkosaan maruah. Rasulullah s.a.w. bersabda “Darah, harta dan maruah seorang muslim adalah haram bagi muslim yang lain”.

Ini merupakan penghormatan, peningkatan taraf manusia dari alam haiwan dan memelihara mereka daripada kehancuran. Sesungguhnya Islam bersikap terbuka   perubahan yang berlaku berdasarkan perubahan suasana dan masa. Islam tidak menyanggahnya. Apabila dikatakan bahawa masyarakat perindustrian berbeza kelakuannya berbanding masyarakat petani, tidak bermakna kebebasan tanpa akhlak, menghalalkan riba, menganggap zina suatu perkara yang munasabah, kebebasan pergaulan, melanggar hudud yang telah ditetapkan oleh Islam atau mencuaikan kefardhuan dan ibadat. Tetapi perubahan yang dimaksudkan adalah yang tidak bertentangan dengan Islam seperti gaya hidup, susunan penempatan, teknologi pembuatan makanan, pengangkutan dan pertukaran maslahat.

Kesemuanya itu termasuk di dalam rangka umum yang berhubung dengan Ia tidak berubah dengan berubahnya masa. Yang berubah ialah ideologi-ideologi ciptaan manusia. Sebaliknya risalah langit mengajak manusia berubah dan maju sehingga mencapai tahap ketinggian dan kemuliaannya. Oleh kerana itu segala yang boleh merosakkan dan menjatuhkan martabat manusia diharamkan Islam. Islam mengharamkan riba, zina, arak, judi, bangkai, daging babi, pembunuhan dan perkosaan maruah. Rasulullah s.a.w. bersabda. peraturan muamalat, hubungan antara lelaki dan wanita, dan perkara halal dan haram.

 6. Usaha berterusan

Sesungguhnya musuh-musuh Islam sentiasa berusaha untuk mempengaruhi umat Islam supaya mengambil falsafah dan cara hidup berasaskan sekularisme, kebebasan mutlak, menolak ketuhanan dan kebendaan yang mereka anuti. Mereka bukan sahaja tidak menerima gandingan akal dan wahyu, bahkan sentiasa mengajak untuk melakukan perubahan dalam segala sesuatu. Pada mereka agama bertentangan dengan teori perubahan. Maka berlakulah persengketaan yang hebat. Akhirnya agama dipisahkan daripada kehidupan, daripada politik, ekonomi, seni dan sains.

Agama hanya tinggal sebagai kecenderungan peribadi atau beberapa nasihat berhubung kehidupan peribadi. Kehidupan keseluruhannya ditentukan oleh nilai dan neraca yang tidak ada hubungan dengan agama. Mereka berusaha bersungguh-sungguh agar fahaman mereka ini turut didokongi oleh umat Islam. Usaha mereka tidak akan berakhir melainkan umat Islam kembali kepada kefahaman Islam yang sebenar seperti mana diturunkan oleh Allah s.w.t. dalam bentuknya yang syumul, sempurna dan merangkumi urusan agama dan dunia. Kemudian mereka membawanya kepada dunia selepas melaksanakannya dalam diri mereka.

 7. Pandangan pendukung dakwah

Di sisi Islam situasinya berbeza seperti yang telah dijelaskan. Islam menerima kewujudan naluri kemanusiaan yang memiliki tuntutan jiwa dan jasad. Islam tidak mengongkong naluri tersebut, bahkan memberikan kebebasan berpandukan garis panduan syarak, sistem dan batasan-batasan yang telah ditentukan. Islam tidak perlu menyahut mana-mana seruan ideologi lain kerana semuanya beracun belaka. Umat Islam mendapati logik barat yang asing itu amat lemah berbanding dengan Islam yang syumul dan agung yang merangkumi aspek kebendaan dan ruh, akal dan hati, dunia dan akhirat. Logik para pendakwah ialah kita mengambil dari barat segala yang baik berdasarkan ajaran Islam dan menolak segala yang bertentangan dengan fahaman tauhid, nilai tetap dan akhlak, sebagaimana kita menolak fahaman tabii yang menggantikan Allah s.w.t, Juga kita menolak fahaman kemasyarakatan dan kemanusiaan yang bertentangan dengan fahaman tauhid yang mana fahaman tersebut tegak di atas asas kebendaan dan keberhalaan.

Sesungguhnya mereka yang beranggapan bahawa kemahuan mereka dapat dicapai dengan meniru segala yang datang dari barat, sebenarnya tertipu. Masyarakat Islam tidak akan terbentuk dan tidak akan mampu berdikari melalui kemajuan kebendaan semata-mata. Manhaj Allah mesti

dilaksanakan, keimanan dan akhlak mesti dipertegaskan. peperangan ini berlaku antara tentera Mesir dan Israel pada 6 Oktober 1971. Akhirnya Mesir berjaya membebaskan kembali tanah miliknya, Semenanjung Sinai yang telah ditawan oleh tentera Israel). Kemenangan pada hari itu tidak dicapai melainkan kerana faktor iman yang merupakan pendorong dan penggerak, bahkan iman adalah kehidupan. Inilah sebenarnya pertarungan yang berlaku sekarang. Semenjak serangan Perancis dan penjajahan barat di bumi umat Islam, kemahuan mereka hanyalah satu iaitu menjauhkan umat Islam daripada risalah mereka, memisahkan agama daripada kehidupan mereka dan membuang kefahaman Islam yang sahih daripada tasawur mereka.

 8. Peranan harakah Islam.

Kini harakah Islam berusaha untuk membawa umat Islam kembali kepada kefahaman Islam yang sahih, pembetulan hala tuju dan penegakan  manhaj Allah. Ia menggariskan unsur-unsur yang tetap dan unsur-unsur yang berubah sehingga Islam kembali sebagai manhaj kehidupan dan sistem masyarakat. Harakah Islam telah melahirkan generasi teras  yang beriman dalam usaha membina kembali masyarakat Islam yang gemilang. Sesungguhnya hakikat pandangan barat terhadap Islam dan hubungan antara Islam dan barat   perlu jelas di fikiran. Begitu juga pandangan barat terhadap unsur-unsur tetap dan bagaimana Islam menangani kedua-dua unsur tersebut, di samping usaha harakah untuk mewujudkan semula kehidupan Islam di atas asas yang sahih dan sejahtera.

Syeikh Abdullah Nasih Ulwan

Kadang-kadang pemuda muslim yang beriman kepada Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama dan Muhammad sebagai nabi dan rasulNya, berhadapan dengan kelemahan sebagai seorang manusia biasa. Dia cenderung kepada hawanya, mengikut nafsu ammarah dan melayari bahtera kehidupan dengan melalui jalan kefasikan dan penyelewengan. Oleh itu adakah di sana penyelesaian positif yang boleh mengeluarkan pemuda tersebut daripada kelemahan kepada kekuatan, membebaskannya daripada tuntutan hawa nafsu, dorongan melakukan dosa dan kongkongan nafsu ammarah?

Wahai saudaraku para pemuda, Islam telah menggariskan penyelesaian kepada setiap muslim yang ditimpa kelemahan, digoda oleh hawa nafsu atau dikuasai oleh syahwat. Apabila dia mengambil penyelesaian tersebut, dia akan menjadi seorang insan yang suci bersih, bertaqwa dan soleh. Apabila dia berjalan di khalayak ramai, dia akan manjadi contoh teladan yang baik dan menjadi perhatian mereka. Jalan penyelesaian yang terpenting ialah:

1-Mempertingkatkan keimanan:

Apa yang saya maksudkan dengan mempertingkatkan keimanan ialah seorang mukmin perlu meyakini bahawa Allah sentiasa bersamanya, mendengar dan melihat perlakuannya, mengetahui perkara yang nyata dan rahsia, mengetahui pandangan mata yang khianat dan perkara yang tersembunyi di dalam dada… Dia sentiasa ingat firman Allah: “Tidak berlaku bisikan antara tiga orang malainkan Dialah yang keempatnya, dan tiada (berlaku antara) lima orang melainkan Dialah yang keenamnya, dan tiada yang kurang dari bilangan itu dan tiada yang lebih ramai melainkan Ia bersama-sama mereka di mana sahaja mereka berada. (Al Mujadalah: 7)

Dengan keyakinan dan perasaan ini, seorang mukmin akan bebas daripada kongkongan hawa nafsu, dorongan nafsu ammarah, tunggangan syaitan dan fitnah harta serta wanita. Dia akan memperlengkapkan dirinya dengan bermuraqabah, takutkan Allah dan merasaiNya sentiasa bersamanya ketika dia keseorangan dan juga ketika bersama orang ramai. Semua ini mendorong mukmin tersebut melakukan amal soleh dengan penuh kesungguhan, amanah dan ikhlas… Bahkan dia dapat menepati kata-kata penyair Islam:

Apabila engkau bersendirian sedetik, jangan engkau kata, aku telah bersendirian, bahkan katakanlah aku diperhati, jangan engkau menyangka Allah lalai walaupun sedetik, jangan sangka ada sesuatu tersembunyi, tidak diketahuiNya.

2- Memenuhi masa lapang dengan sesuatu yang bermanfaat.

Sabda Rasulullah s.a.w sebagaimana yang telah diriwayatka oeh Muslim: “Bersungguhlah melakukan apa yang mendatangkan faedah kepada engkau, mintalah pertolongan kepada Allah dan jangan merasa lemah. Para pakar jiwa dan pendidikan telah mengakui: Apabila seorang pemuda bersendirian di waktu lapangnya… ia akan didatangi oleh berbagai khayalan, gelora hawa nafsu dan memikirkan tentang seks yang memberangsangkan. Nafsu ammarahnya akan bergelora di hadapan khayalan dan tuntutan nafsu ini. Kadang-kadang dia terjatuh ke lembah yang dilarang oleh syara’ yang mendatangkan akibat yang buruk. Adalah lebih membahayakan lagi apabila dia mempunyai waktu lapang dan harta.

Benarlah kata-kata penyair – Sesungguhnya pemuda waktu lapang dan faktor kesungguhan, Adalah kemuncak kebinasaan bagi seseorang.

Tidak ragu lagi bahawa jalan penyelesaian untuk bebas daripada semua ini ialah dengan mengetahui bagaimana cara menggunakan waktunya dan memenuhi kekosongan yang ada. Alangkah banyaknya bidang boleh diceburi oleh pemuda untuk mengisi masa lapang. Ianya boleh dipenuhi samada dengan bersukan yang boleh menguatkan tubuh badannya, bersiar-siar merehatkan jiwanya, membuat penyelidikan dan pembacaan yang boleh menambah pengetahuannya, membuat kerja tangan yang boleh memperkembangkan minatnya, menghadiri kelas-kelas pengajian agama yang boleh mengasuh akhlaknya, turut serta di dalam peraduan yang berbentuk ilmiah (kuiz) yang boleh melatih mentalnya, berlatih memanah dan cara-cara jihad yang lain yang boleh mempersiapkan dirinya dan lain-lain jalan penyelesaian yang boleh menjauhkannya daripada mengikut hawa nafsu dan dorongan nafsu ammarah.

3-Bersahabat dengan orang-orang yang baik.

Ia adalah prinsip asasi untuk memperbaiki diri dan mempertingkatkan ketaqwaan… kerana sabda Rasulullah s.a.w yang diriwayatkan oleh Tarmizi: Jangan engkau bersahabat kecuali dengan orang yang beriman dan jangan memakan makanan engkau kecuali orang yang bertaqwa.

Suatu kenyataan yang diakui apabila seorang pemuda bersahabat dengan orang yang beriman, dia akan memperolehi kebaikan, istiqamah dan teguh untuk beramal dengan asas-asas Islam… bahkan dia boleh mencapai tahap keimanan, ketaqwaan dan thabat seperti mereka… Sebaliknya, sekiranya dia bersahabat dengan orang yang fasik, engkar dan menyeleweng… dia akan memperolehi daripada mereka kejahatan, kefasikan dan penyelewengan. Bahkan dia akan menjadi fasik, engkar dan menyeleweng seperti mereka. Inilah apa yang telah diingatkan oleh Rasulullah s.a.w sebagaimana yang diriwayatkan oleh Tarmizi: ”Seseorang itu berada di atas agama sahabat akrabnya, maka setiap daripada kamu hendaklah melihat siapakah yang hendak dijadikan sahabat akrab.

Sebuah syair Arab ada menyebut: Janganlah kamu bertanya tentang seseorang, tetapi tanyalah tentang temannya. Setiap teman akan mengambil teladan dari temannya.

Itulah dia -wahai para pemuda- jalan penyelesaian yang terpenting untuk sampai kepada matlamat pengislahan, ketaqwaan, puncak ketinggian akhlak dan menewaskan hawa nafsu, was-was dan pujukan syaitan. Walau bagaimanapun, perlu diketahui bahawa Allahlah yang memelihara ke jalan keluar kepada setiap permasalahan. Benarlah Allah yang telah berfirman: “Siapa yang takutkan Allah (bertaqwa kepadaNya), maka Dia akan menjadikan baginya jalan keluar dan memberikannya rezeki dari jalan yang tidak disangka. (Al Talaq: 2)

Di dalam kekuatan hebat dan tanah yang meluas ini, faktor-faktor merungkai mula meresap ke dalam kehidupan umat al Quran ini. Faktor ini membesar dan berkembang sedikit demi sedikit sehingga akhirnya telah merobek Daulah Islam ini dengan hancurnya pusat kerajaan Islam pada kurun ke 6 Hijrah di tangan Tartar. Sekali lagi ianya berlaku pada kurun 14 Hijrah (Kejatuhan Khalifah Othmaniah). Peristiwa ini meninggalkan kesan yang amat buruk. Umat Islam bertaburan dan negara Islam menjadi negeri-negeri kecil. Faktor-faktor yang menjadikan demikian:

1-Perpecahan politik, asabiyyah (fanatik), berebut pangkat dan kepemimpinan. Sedangkan Islam telah memberi amaran keras dalam masalah ini. Islam telah mengingatkan supaya menjauhkan diri dari kepimpinan. Islam berulang kali menarik perhatian umatnya bahawa inilah faktor yang merosak dan menghancurkan mana-mana rakyat dan negara. Allah berfirman, maksudnya; “…dan janganlan kamu bertelagah, nescaya kamu akan gagal dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar” (al Anfal :46). Disamping itu Islam juga sangat berpesan supaya ikhlas kerana Allah semata-mata dalam percakapan, perbuatan dan hindarkan dari suka kemasyhuran dan pujian.

2-Perbezaan pandangan dalam agama dan mazhab, menyeleweng dari agama yang sepatutnya aqidah dan amalan tetapi bertukar menjadi cakap-cakap dan istilah kaku yang mati. Kecuaian terhadap kitab Allah, sunnah Rasulullah saw, jumud dan fanatik terhadap pendapat dan kata-kata seseorang, suka bertengkar dan berdebat sedangkan semua perkara ini ditegah oleh Islam. Rasulullah saw bersabda, maksudnya “Tidak sesat sesuatu kaum itu selepas mereka mendapat hidayat kecuali oleh kerana mereka suka bertengkar”.

3-Tenggelam dalam pelbagai kemewahan dan kenikmatan, suka berhiburan dan keseronokan. Ianya berlaku begitu dahsyat pada pemerintah-pemerintah Islam lebih dari apa yang berlaku kepada pemerintah bukan Islam. Padahal mereka telah membaca firman Allah, maksudnya; “Dan jika kami hendak membinasakan negeri, maka kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu. Maka sudah sepatutnya berlaku terhadapnya ketentuan kami dan kemudian kami hancurkan negeri itu sehancurhancurnya”. (al Isra’:16)

 4-Peralihan kuasa dan pimpinan kepada bukan Arab; samada kepada Farsi, Dailam (suku Kurd), Mamalik, Turki dll. Kebanyakan mereka ini tidak pernah merasa kemanisan Islam yang sebenar. Hati-hati mereka tidak dapat disinari oleh cahaya al Quran disebabkan kesukaran memahami maksud-maksudnya. Sedangkan mereka telah membaca firman Allah, maksudnya, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaan mu orang- orang yang di luar kalangan mu (kerana) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagi mu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepada mu ayat-ayat (Kami) jika kamu mahu memahaminya”. (Al Imran :118)

5-Mengabaikan ilmu-ilmu teknologi dan sains sebaliknya menghabiskan masa dengan teori falsafah dan ilmu-ilmu khayal yang mandul. Sedangkan Islam mengesa mereka supaya mengkaji, menyelidik segala rahsia-rahsia kejadian, meneroka di muka bumi dan berfikir tentang makhluk Allah sebagaimana firman Allah, maksudnya; “Katakanlah, perhatikanlah apa yang ada di langit dan bumi”. (Yunus:101). masyarakat lain sehingga mereka ketinggalan dalam persiapan dan persediaan yang mana akhirnya mereka telah di cakup sekali gus. Al Quran telah memerintahkan mereka supaya sentiasa berwaspada dan jangan lalai. Ia  mensifatkan orang-orang yang lalai dan cuai tak ubah seperti binatang bahkan lebih sesat dari itu. Firman Allah, maksudnya; “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka mempunyai hati tetapi tidak di pergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak di pergunakannnya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah) dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakan untuk mendengar (ayat- ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang- orang yang lalai” (al-A’raf:179).

6-Terpedaya dengan tipu muslihat musuh yang manis di bibir. Mereka merasa kagum dengan carakerja dan kemewahan hidup kuffar musuh. Mereka terburu-buru meniru kuffar tanpa mengira baik buruk. Sedangkan al-Quran sangat menegah muslimin dari meniru atau menyerupai kuffar. Al-Quran terus terang memerintah supaya tidak menyerupai kuffar dan perlunya memelihara ciri-ciri identiti Islam. Firman Allah, maksudnya; “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebahagian dari orang-orang yang al Kitab nescaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman” (aL-Imran:100). Di ayat yang lain, maksudnya; “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu taati orang-orang itu nescaya mereka mengembalikan kamu ke belakang (kepada kekafiran) lalu kamu menjadi orang yang rugi” (aL-Imran:149)

 Risalah Antara Semalam & Hari Ini  – Syeikh Hassan al-Banna

Rabbani Dalam Dakwah

 

Allah swt berfirman: “Katakanlah: Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutku, mengajak (kamu) kepada Allah atas hujah (basirah) yang nyata, Maha Suci Allah dan aku tiada termasuk dalam orang-orang yang musyrik”(Yusuf:108)

 

Ayat ini mengajar beberapa prinsip dalam kerja dakwah iaitu:

 

1-Dakwah ini bersumberkan dari Allah (minallahi)

Ini dapat dilihat dari perkataan ‘katakanlah’yang memberi maksud bahawa Rasulullah saw menerima perintah dari Allah dan juga perkataan ‘jalan (agama)ku’yang menunjukkan bahawa dakwah harus berjalan atas panduan agama Islam.

 

2-Dakwah ini menyeru kepada Allah (illahi)

Ini dapat dilihat dari perkataan ‘mengajak kepada Allah..’yang memberi maksud dakwah ini menyeru (ubudiyyah ) kepada Allah bukan kepada pengangungan individu atau organisasi. Seruan kita ialah kepada Islam dahulu sebelum yang lain.

 

3-Dakwah ini dilakukan hanya kerana Allah (lillahi)

Ini dapat dilihat dari firman “Maha Suci Allah dan aku tiada termasuk dalam orang-orang musyrik”. Sesungguhnya melakukan dakwah atas niat selain dari mencari keredaan Allah adalah syirik yang tersembunyi.  

 

Atas dasar inilah kita katakan bahawa usaha kita sebagai perjuangan rabbani yang mencakupi minallahi, illahi dan lillahi. Bukan yang lain.

                                                       

Tambahan daripada itu, beberapa prinsip lain dalam kerja dakwah yang dapat diambil dari ayat ini ialah:

 

4-Dakwah ini perlu dilakukan secara kolektif (jamaie)

Ini dapat dilihat dari firmanya ‘’aku dan orang-orang yang mengikutiku’. Dakwah hendaklah dilakukan secara amal jamae agar hati-hati pendakwah yang faham dan beriman atas prinsip ini disatukan segala potensi dan kapasiti yang ada dalam satu saf yang padu dan tersusun.

 

5-Dakwah ini dilakukan atas kejelasan ilmu

Ini dapat dilihat dari perkataan “..mengajak kepada Allah atas hujah (basirah)..”yang membawa maksud dilakukan atas kejelasan ilmu dan hujah bukan atas ikut-ikutan. Untuk itu, pendakwah perlulah faham dan sentiasa berfikir.

 

6-Dakwah ini dilakukan dengan sumber-sumber kekuatan berikut:

a)Kekuatan manhaj

Ini dapat dilihat dari perkataan ‘Katakanlah”, ‘Jalan (agama)ku “dan ”Atas hujah (basirah)’.

 

b)Kekuatan kepimpinan

Ini dapat dilihat dari perkataan Äku dan mereka yang mengikuti ku”. Äku’itu merujuk kepada Rasulullah saw sebagai simbol kepimpinan dakwah. Gabungan Áku’dan ‘mereka yang mengikuti ku’adalah simbol berjemaah.

 

c)Kekuatan displin

Ini dapat dilihat sifat sahabat yang taat ‘mengikuti’Rasulullah saw, istiqamah atas manhaj dan niat semata-mata kerana Allah taala. Tanpa displin, segala prinsip yang dinyatakan akan mudah diabaikan. Apabila prinsip telah ditinggalkan, maka jadilah dakwah sebagai usaha yang memenatkan sahaja.

 

Sumber: Fiqh Dakwah Dalam Al-Quran, IIFSO (2004)

Hayya alal Jihad

Risalah dari Muhammad Mahdi Akif, mursyid Am Ikhwanu Muslimin, 15-01-2009

 

Allah SWT berfirman:“Kerana itu hendaklah orang-orang yang menukar kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat[316] berperang di jalan Allah. Barangsiapa yang berperang di jalan Allah, lalu gugur atau memperoleh kemenangan Maka kelak akan Kami berikan kepadanya pahala yang besar”. (An-Nisa:74)

 

Inilah bangsa Yahudi,  mereka adalah bangsa keturunan kera dan babi…Zionisme para perampas bumi Palestina… Bumi Arab dan Islam…berjalan dan hidup mengikuti nenek moyang mereka; melakukan kerusakan, menghancurkan tanaman dan keluarga, tidak menghormati dan menepati janji, ikatan atau hak-hak manusia. Merekalah yang menggunakan senjata terlarang secara internasional di antaranya bom fosfor. Merekalah yang selalu melakukan kejahatan perang, selalu menargetkan perangnya kepada wanita dan anak-anak yang tidak berdosa, tidak pernah bosan menghancurkan dan membombardir tempat-tempat yang disucikan dan harus dijaga keamanannya; mulai dari masjid, rumah-rumah, lembaga-lembaga, yayasan-yayasan dan rumah sakit-rumah sakit dan bahkan hingga sekolah-sekolah yang berada di bawah payung PBB.

 

Bahawa apa yang terjadi di bumi Gaza yang penuh berkah berupa pembunuhan, kerusakan dan penghancuran..bukan hal baru dari anak cucu Zionis ini; namun Al-Qur’an telah mengabarkan kepada kita bahawa mereka adalah:

- Selalu mengobarkan api perang dan melakukan kerusakan di muka bumi:

“Setiap mereka menyalakan api peperangan Allah memadamkannya dan mereka berbuat kerusakan di muka bumi dan Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat kerusakan”. (Al-Maidah:64)

- Melanggar perjanjian

“(yaitu) orang-orang yang kamu telah mengambil Perjanjian dari mereka, sesudah itu mereka mengkhianati janjinya pada Setiap kalinya, dan mereka tidak takut (akibat-akibatnya)”. (Al-Anfal:56)

- Berkhianat.

“Dan kamu (Muhammad) Senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit diantara mereka (yang tidak berkhianat)”. (Al-Maidah:13)

- Pengecut

“Mereka tidak akan memerangi kamu dalam Keadaan bersatu padu, kecuali dalam kampung-kampung yang berbenteng atau di balik tembok”. (Al-Hasyr:14)

“Dan sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling loba kepada kehidupan (di dunia)”. (Al-Baqarah:96)

- Selalu membunuh para Nabi, para du’at dan orang-orang shalih

“Dan membunuh Para Nabi yang memang tak dibenarkan dan membunuh orang-orang yang menyuruh manusia berbuat adil”. (Ali Imran:21)

 

Sebagaimana mereka juga adalah bangsa yang tidak memiliki etika di hadapan Allah, hati mereka keras bahkan lebih keras dari batu, keras permusuhan mereka terhadap orang-orang beriman, menebarkan propaganda bohong dan keji, serta menyimpangkan kitab-kitab Allah..“Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israel dengan lisan Daud dan Isa putra Maryam. yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas”. (Al-Maidah:78)

 

“Katakanlah: “Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang-orang fasik) itu di sisi Allah, Yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi[424] dan (orang yang) menyembah thagut?”. mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus”. (Al-Maidah:60)

 

Kejahatan Zionis yang keji sepanjang sejarahnya tidak akan pernah terlupakan

Seperti pembantaian yang mereka lakukan di Kafr Qasim, Dier Yasin, Qana, Bahrul Baqar, Shabra, Syatila, Al-Haram Al-Ibrahimi, Jenin dan tempat-tempat lainnya.Fakta dan Sejarah juga telah mencatat bahawa tidak ada gunanya bekerja sama dengan Zionis oleh kerana tabiat mereka yang buruk, makar dan pelecehan mereka terhadap setiap perdamaian, kesepakatan, inisiatif, pertemuan, perjanjian, konsensus internasional dan lembaga-lembaga internasional lainnya… namun ubat yang paling ampuh bagi kita adalah seperti yang Allah sampaikan kepada kita

 

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya”. (Al-Anfal:60)

 

Menghadapi mereka dengan memata-matai, menghadapi mereka dengan penuh hati-hati.. dan dengan jihad dalam erti yang sejelas-jelasnya.Dari sini sudah seharusnya kita mengobarkan jihad yang suci untuk menghadapi kebrutalan dan barbariyah yang telah membantai keluarga kita di Gaza; di tengah pasif nya badan-badan antarabangsa dan lambannya sikap negara-negara Arab..

 

“Berangkatlah kamu baik dalam Keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui”. (At-Taubah:41)

 

Mari Kita Berjihad

Kerana itu, bila kita dapat menyeru dengan suara tinggi “Hayya alal Jihad” (Mari kita berjihad), kerana jika kita tidak menyeru sekarang niscaya dunia akan hancur menghadapi kelompok Zionis yang penuh dengan kedengkian. Ikhwanul Muslimin menyeru seluruh umat Islam untuk menghembuskan syiar jihad guna membela dan menolong Ikhwan mereka para mujahidin yang tegar dan sabar di Gaza dan menolong orang-orang tertindas dari laki-laki, wanita dan anak-anak; menyeru umat seluruhnya untuk berjihad sesuai dengan kemampuan; setiap orang berjihad sesuai dengan kemampuan dan kapasitasnya.

 

1-Hayya ‘alal jihad… jihad yang menyeluruh dengan berbagai jenis dan maknanya; dimulai dari jihad melawan hawa nafsu dan syaitan dan berakhir dengan mengikut sertakan negara-negara Arab dan Islam untuk berjihad dengan tangan dan senjata; bila digunakan senjata yang dimiliki Arab dan Islam atau dia akan karat jika tidak digunakan sekarang? Bila rezim-rezim pemerintah mengungkapkan kemarahannya dihadapan darah yang mengalir dari tubuh anak bangsanya sendiri jika tidak sekarang? Bila akan bergerak jika tidak bergerak sekarang?!

2-Hayya ‘alal jihad… untuk mendukung pasukan pejuang dengan senjata dalam menghadapi mesin perang Zionis.

3-Hayya ‘alal jihad… dengan waktu, ilmu, harta dan jiwa, untuk mewujudkan persatuan antar seluruh kelompok dan faksi.

4-Hayya ‘alal jihad…untuk dapat membuka perbatasan, perlintasan dan pintu-pintu kebaikan sebagai sarana mendukung perjuangan para mujahid.

5-Hayya ‘alal jihad…untuk membebaskan diri di hadapan Rabb kerana tidak mampu menunaikan tugasnya akan hak Tuhannya, agamanya dan risalahnya.

6-Hayya ‘alal jihad… untuk menolong orang-orang yang dizalimi dan mengembalikan kebenaran kepada pemiliknya.

7-Hayya ‘alal jihad… dengan berdiri tegak melawan kezaliman, kebiadaban dan keangkuhan Zionis yang tiada taranya; baik di hadapan mata dan pendengaran seluruh dunia.

8-Hayya ‘alal jihad… untuk memperbaiki hubungan kita dengan Allah, mendekatkan diri berdoa kepada-Nya sepanjang malam dan siang, khususnya pada waktu sahur (penghujung malam); untuk membela dan menolong para mujahid yang sabar dan tegar.

 

Peranan-peranan yang diinginkan

Dalam keadaan seperti ini, seluruh umat berkewajiban mengumandangkan jihad, mengerahkan segala potensi dan mengobarkan segala kekuatan untuknya;

- Kepada para pemimpin dan penguasa hendaknya membantah alasan Zionis yang tidak masuk akal dan tidak membenarkannya secara fikri (ideologi) dan tsaqafi (budaya),

- Kepada para ulama dan pemimpin umat hendaknya memberikan taujih-taujih di atas mimbar, untuk  mengedepankan persatuan barisan dan menghindari diri dari kehinaan jiwa, sekaligus menanamkan di dalam diri umat akan firman Allah:

 

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan Itulah kemenangan yang besar”. (At-Taubah:111)

 

Wanita, Pemuda & Masyarakat

Dan hendaknya  semua berusaha untuk mengembalikan kemuliaan umat seperti yang telah diraih oleh umat sebelumnya seperti Al-Izz bin Abdul Salam dan Syeikh Ahmad Yasin.

- Bagi para wanita pun memiliki peran yang penting; mentarbiyah generasi penerus secara benar; memberikan pemahaman akan fenomena yang sebenarnya tentang serangan dan agresi yang brutal atas Ikhwan kita, dan apa yang seharusnya dilakukan olehnya untuk menolong dan membantu Ikhwan yang menjadi pahlawan yang begitu sabar dan ketegaran dalam mempertahankan agama dan negara serta kehormatannya di Gaza.

- Sementara kalian wahai para pemuda.. Pembawa api semangat jihad dan perjuangan di setiap tempat dan seluruh umat.. hendaknya kalian memiliki ungbila yang selalu mendengung, sehingga mampu menulikan telinga-telinga Zionis dan antek-antek nya serta orang-orang yang melakukan konspirasi dengannya, dan sehingga dapat terwujud kemenangan Allah, melalui perjuangan kalian dengan berbagai kemampuan dan sarana.

- Dan kepada para faksi dan kelompok masyarakat; Arab dan Muslim, juga berkewajiban mengumandangkan jihad dengan segala kekuatan dan sarana yang dimiliki untuk kemenangan Gaza, tidak tunduk pada ikatan, kekangan, dikte atau beban-beban yang menghantui nya dalam melakukan jihad yang suci.

 

Bangsa Arab dan Islam

Kalian adalah harapan dan cita-cita seluruh umat setelah Allah; setelah rezim Arab berada pada tingkat paling bawah akan kesedarannya untuk memberikan perannya untuk kemaslahatan umat dan bangsanya;

- Perlihatkanlah kemarahan kalian dan teruslah melakukan itu semua dan jangan lemah azimah kalian…kerahkanlah seluruh potensi dan kekuatan kalian… jangan berhenti hingga berhenti aliran darah warga Palestina, terwujud kemenangan bagi para mujahidin dan terkalahkan Zionis dengan penuh kehinaan dan kerugian. Insya Allah.

- Berikan dan persembahkan lah dukungan yang sempurna melalui berbagai macam sarana bentuknya: Materiil, moril  dan spiritual

 

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha mengetahui. Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. (Al-Baqarah:261-262)

 

Dari Zaid bin Khalid Al-Juhani ra, bahawa Rasulullah saw bersabda:“Barangsiapa yang mempersiapkan orang yang berjuang di jalan Allah maka ia ikut berjuang, dan membekali orang yang berperang dengan kebaikan maka ia telah ikut berjuang”. (Bukhari, Muslim, Abu Daud dan Tirmidzi).

 

Dari Khuraim bin Fatik berkata: Rasulullah saw bersabda:“Barangsiapa yang berinfak di jalan Allah maka ditulis baginya 700 kali lipat” (Tirmidzi dan dihasankan oleh Nasa’i)

 

Boikot lah hubungan kalian dengan musuh dan antek-antek nya, per luaslah ruang lingkup boikot tersebut hingga mencakup kepada siapa saja yang bekerja sama dengan entiti Zionis dan jadikan itu semua sebagai salah satu sarana mendekatkan diri kepada Allah..Gencarkanlah tekanan terhadap para pembuat kebijakan dan keputusan, sehingga mereka dapat memberikan kebijakan dan keputusan yang kalian inginkan; untuk menjaga dan melindungi kemaslahatan strategis kalian. Dan sampaikanlah –secara individu, lembaga dan kelompok – kepada seluruh lembaga sosial internasional untuk memikul amanah secara baik, sehingga tergerak untuk menggiring para penjahat perang Zionis ke mahkamah internasional akibat kejahatan yang telah mereka lakukan, baik pemimpinnya dan pasukannya di Gaza dan daerah-daerah Palestina lainnya, seperti pembantaian warga, pembunuhan warga awam, larangan memberikan perubatan terhadap warga yang terluka, pelarangan masuknya bantuan makanan, pembunuhan terhadap anak-anak, wanita dan orang tua.

 

Risalah untuk para mujahid di Gaza

 “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung”. (Ali Imran:200)

Wahai para pejuang yang mulia… wahai jiwa-jiwa yang mampu mempertahankan kesucian agama, umat dan bangsa… ketahuilah bahawa kalian berada dalam kebenaran dan para pemimpin umat ini berada di belakang kalian; mendukung kalian dengan berbagai sarana yang dimiliki dan meninggikan bendera jihad di berbagai tempat dan daerah, kerana itu

 

“Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). jika kamu menderita kesakitan, Maka Sesungguhnya mereka pun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari pada Allah apa yang tidak mereka harapkan. dan adalah Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (An-Nisa:104)

 

Dan ketahuilah bahawa apa yang terjadi atas kalian bukanlah hal yang baru bagi umat ini; telah banyak terjadi seperti ini akan usaha dan gigih nya kebatilan mengalahkan pembawa kebenaran dan para pengikutnya; perang Badar, perang Al-Ahzab, perang Ain Jalut dan lain-lainnya dari berbagai peperangan Islam yang di dalamnya Allah memenangkan dan memuliakan pasukan dan tentaranya, sementara kalian adalah bahagian dari tentara Allah maka kalian tidak akan pernah ditinggalkan dan dihinakan Allah

 

“Sesungguhnya Kami menolong Rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat), (yaitu) hari yang tidak berguna bagi orang-orang zalim permintaan maafnya dan bagi merekalah laknat dan bagi merekalah tempat tinggal yang buruk”. (Ghafir:51-52)

 

Ketahuilah bahawa kalian tidak sendirian dalam perang yang keji ini, bahawa seluruh bangsa telah mengungkapkan apa yang mereka dapat ungkapkan, dan para penjahat mulai keluar dari kehinaan nya dan kelak tidak akan kembali lagi sampai Allah mengembalikan kebenaran kepada pemiliknya, insya Allah.

 

“Perangilah mereka, niscaya Allah akan menghancurkan mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman”. (At-Taubah:14)

 

Ketahuilah bahawa khabar gembira tentang kemenangan relah tampak dan muncul di ufuk; yang utama adalah kerana ketegaran kalian yang begitu menakjubkan; sebagai mukadimah akan kemenangan kalian, kita tidak akan mungkin melupakan dari apa yang telah dilakukan oleh musuh secara keji dan sebagai kerugian dan diderita musuh yang berusaha disembunyikan di hadapan warganya dan media elektronik..

 

“Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui”. (Al-Anfal:17)

 

Dan di antara khabar gembira kemenangan adalah harakah bangsa dan umat Islam yang tidak  mau tunduk di hadapan musuh yang hina, yang telah mampu membuat sebahagian orang terhinakan, namun mereka tetap menolak kecuali dengan tunduk pada kebenaran dan pembawa kebenaran tersebut.

 

Imam As-Syahid Hasan Al-Banna

Kita selalu mengingat ungbila As-Syahid Hasan Al-Banna: “Bahawa setiap umat yang baik dalam merekayasa kematian, dan mengetahui bagaimana dapat mati dengan kematian yang mulia; maka Allah akan memberikan kepadanya kehidupan yang mulia di dunia dan kenikmatan yang kekal di Akhirat, tidaklah penyakit wahn yang menghinakan akan menimpa kita kecuali kerana cinta dunia dan takut mati, kerana itu persiapkanlah jiwa-jiwa kalian untuk melakukan kerja yang mulia dan besar, berusahalah untuk mati secara mulia sehingga Allah akan memberikan kehidupan kepada kalian, dan ketahuilah bahawa kematian pasti akan datang, dan hal itu terjadi hanya satu kali; jika kalian menjadikannya mati di jalan Allah maka itulah sebuah keberuntungan di dunia dan ganjaran yang besar di akhirat, apa yang menimpa kalian sudah dicatat dan ditentukan oleh Allah, renungkanlah baik-baik firman Allah SWT:

 

“Kemudian setelah kamu berdukacita, Allah menurunkan kepada kamu keamanan (berupa) kantuk yang meliputi segolongan dari pada kamu, sedang segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri, mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliyah. mereka berkata: “Apakah ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini?”. (Ali Imran:154)

 

Ketahuilah, bahawa pada kematian yang mulia ada keberuntungan dalam bentuk kebahagiaan yang sempurna… semoga Allah menganugerahkan rezki kepada kita dan kalian semua berupa kemuliaan syahadah di jalan-Nya..(Risalah Jihad)

 

Sayyid Qutb

Sebagaimana kalian wahai para mujahid dan para pahlawan kebanggaan umat, mengingatkan kami pada ungbila sahib Zhilal, Sayyid Qutb, beliau berkata: “Bahawa di sana ada renungan dalam suatu kehidupan yang sebahagian manusia tidak mau tegar; kecuali menjadi hamba yang tunduk kepada Allah, tenteram berada dalam perlindungannya, sekalipun diberikan kepadanya kekuatan, keteguhan, ketegaran dan kesiapan; dalam kehidupan terdapat berbagai renungan yang menghantam itu semua; tidak mampu tegar kecuali orang-orang yang tenteram dengan Allah SWT.

 

“Ketahuilah dengan berdzikir kepada Allah akan menenteramkan hati”

 

Mereka yang kembali kepada Allah dan tenteram dengan berdzikir kepada-Nya, maka Allah akan memberikan kebaikan tempat kembali, sebagaimana mereka telah kembali secara baik kepada Allah dan baik dalam beramal” dan saya berharap bahawa kalian termasuk dalam barisan ini, dan Saya tidak berusaha mensucikan seseorang di hadapan Allah SWT.

 

Tsiqahlah terhadap kemenangan dan pertolongan Allah

“Dan sesungguhnya Kami berhak memberikan kemenangan kepada orang-orang beriman”.

 

Dan kalian telah masuk dalam jihad sehingga ini –pada hakikatnya- merupakan kemenangan dari Allah, dan kelak kalian pasti akan menang.. “Dan kelak, Allah pasti akan menolong orang-orang yang menolongnya , sesungguhnya Allah Maha Kuat dan Maha Perkasa”.

 

Sungguh dengan ketegaran kalian telah mampu menanamkan ideologi dan ruh perjuangan kepada seluruh bangsa di dunia ini, dan kalian telah memberikan contoh yang menakjubkan oleh jihad kalian dan memberikan keteladanan yang nyata, Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman. apabila kamu memerangi pasukan (musuh), Maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung”. (Al-Anfal:45)

 

Dan saya berikan khabar gembira untuk kalian melalui firman Allah: “Golongan itu pasti akan dikalahkan dan mereka akan mundur ke belakang. sebenarnya hari kiamat Itulah hari yang dijanjikan kepada mereka dan kiamat itu lebih dahsyat dan lebih pahit”. (Al-Qamar:45-46)

 

Kepada para pemimpin dan penguasa di dunia

Sesungguhnya syiar bangsa yang mulia telah tampak dengan nyata, keluar dalam bentuk demonstrasi besar-besaran hingga berjuta masa keluar mengobarkan kata-kata: “Gaza adalah bahagian dari kami, dan kami adalah bahagian dari Gaza.. kami akan berdamai dengan orang-orang yang mau berdamai, dan memusuhi orang-orang memusuhinya, kerana itu tentukan lah sikap kalian kepada siapa kalian berafiliasi; kelompok kebenaran dan para pembawanya ataukah pada kelompok kebatilan dan antek-antek nya. Dan ketahuilah bahawa kemarahan umat sudah sangat besar, dan mereka tidak akan melupakan akan sikap kalian yang hanya diam dan bahkan berkonspirasi atas bangsa kalian yang tercinta di Gaza.

 

Bahawa waktu untuk berbicara telah berlalu, kini tiba saatnya waktu bekerja dan berjihad yang sebenarnya yang akan menjadi sarana pembebas tanggung jawab di hadapan Allah kelak dari apa yang telah kalian lakukan bersama orang-orang yang bodoh dan hina kepada bgnsa kalian sendiri, dan ketahuilah bahawa tempat sampah sejarah sangatlah luas untuk mereka, dan kelak kita akan berjalan untuk membela agama dan umat kita di Gaza yang tercinta:

 

“Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali”. (As-Syuara:227)

Syeikh Muhammad Mahdi Akif

Kita memperingati sirah dan kehidupan Rasulullah saw bukan sehari dalam sebulan, namun kita melakukannya setiap hari dan bukan sekali dalam sehari dalam satu hari namun puluhan kali; ketika ada seruan dan ajakan shalat, dunia seluruhnya menjawab dan menjawab seruan azan; saya bersaksi bahawa Muhammad utusan Allah. Setiap kali bertasyahud  dalam shalat, seorang muslim seakan bertemu Rasulullah saw mengucapkan salam: “Assalamu’alaika Ayyuhan nabi”, seakan mengunjunginya secara maknawi dan bertemu dengannya, menyambut dan bersuka cita kepadanya. 

 

Manusia cenderung terjerumus pada kehancuran

Bagi para pemerhati keadaan dunia saat ini akan melihat bahawa manusia banyak yang cenderung pada hawa nafsu yang menghinakan seakan datang kepada semua orang dan hampir semuanya, dan dunia kini dibagi menjadi dua kelompok: 

 

– Kekuatan yang dengan taringnya ingin mendominasi yang lain, dan memaksakan kehendak dari apa yang mereka inginkan, membuat perjanjian yang menjadi sarana merampas sumber daya alam mereka, dan menjadikan diri mereka sebagai pemimpin mereka, dan pada selanjutnya mencegah mereka dari kebebasan dan kedaulatan atas tanah mereka, dan kebebasan melakukan tindakan dari potensi yang mereka miliki…  Menyalakan api perang yang mereka istilahkan dengan tindakan preventif, hanya untuk  mengamankan dan melancarkan kepentingan mereka sendiri, membatasi kebebasan dan kemerdekaan warga yang bergolak dalam diri mereka untuk melakukan perlawanan terhadap ketidakadilan, mengembalikan hak-hak dan kebebasan bangsa, menolak penjajahan.

 

Bahkan, mereka tidak melakukan itu saja, namun mereka juga memantik api perang antara anak-anak bangsa dalam satu negara (perang saudara), sehingga mereka meminta perlindungan dan bantuan kepada mereka dan bergantung pada tali mereka.

 

– Adapun kelompok lainnya adalah kelompok yang lemah dan dihinakan kerana kemiskinan dan kebodohan, dibutakan oleh penyakit, dan kelemahannya kian terus bertambah oleh adanya pemerintah otoriter yang membatasi kebebasan, dan menurunkan berbagai macam warna dari ketidakadilan, menutup berbagai sisi mata pencarian, dan enggan melakukan perbaikan kecuali harus tunduk pada kekuasaannya, menguasai segala potensi yang dimiliki, menghisap apa yang tersisa dari darahnya, melakukan penganiayaan hingga titik maksimum hingga pada puncak penyiksaan saat ada usaha represif  rakyat yang tertindas  dan tertekan, berteriak kesakitan atau meminta pertolongan. 

 

Keadaan yang suram ini telah menjadi lumrah di sebahagian besar masyarakat di negara Islam di seluruh dunia ketiga yang hidup di bawah tingkat kemiskinan, pengangguran di semua kelompok masyarakat, penyakit merajalela, ubat-ubatan yang mahal dan langka sehingga jika ditemukan tidak mampu membelinya, terjadi korupsi dalam pendidikan dan pemerintahan, dan menyebarnya rasuah dan sikap pilih kasih, sikap egois dan egoisme, menyebar kejahatan dalam berbagai strata masyarakat, sehingga pemerintah yang memimpin suatu negara hanya menyibukkan diri untuk menyelesaikan permasalahan ini dan sebagian mereka ada yang melakukan pembatasan terhadap para generasi kebangkitan Islam yang berusaha ingin memperbaiki keadaan masyarakat dan melakukan kebangkitan serta menghadang musuh-musuhnya dari  Zionis dan kuncu-kuncu nya. 

 

Musuh takut terhadap nyala api keimanan 

Hal ini patut dipahami, bahawa musuh sangat menyadari bahawa rahasia kekuatan umat dan bangsa terletak pada kekuatan iman dan cinta pada  jihad dan syahadah di jalan Allah; oleh kerana itu pertama kali yang mereka lakukan adalah memusnahkan nyala api iman dan mengerahkan segala potensi yang mereka miliki dan bekerja sama dengan kuncu-kuncu nya untuk mewujudkan impian mereka, namun Allah menghinakan tipu daya  mereka dan memperkukuh umat sesuai dengan fitrahnya dan merespon setiap kali ada seruan jihad dan syahadah…  “Mereka ingin memadamkan cahaya Allah melalui mulut-mulut mereka dan Allah yang menyempurnakan cahaya-Nya sekalipun orang-orang kafir tidak menyukainya”. (As-Shaff:8)  

 

Nabi Muhammad saw pembawa rahmat bagi semesta alam  

Allah telah mengutus Rasulullah saw membawa rahmat bagi semesta alam, bagi siapa yang mengikutinya akan mendapat keberuntungan di dunia dan di akhirat ..  “Dan tidaklah Kami mengutusmu kecuali untuk memberi rahmat bagi semesta alam” (Al-Anbiya:107). Dan nabi saw sendiri bersabda:  “Sesungguhnya Aku diutus untuk membawa rahmat”.

 

Dan dibawah naungan syariah Rasulullah saw seluruh manusia menikmati kebebasan, keadilan dan kesetaraan dan memberikan kasih sayang bagi manusia yang tertimpa penderitaan dan ketidakadilan, ketakutan dan teror yang dilakukan oleh para penentangnya yang  tidak hanya menolak hadiah kasih sayang tersebut, namun lebih dari itu adalah menyatakan api perang terhadap syariat langit dan melecehkan dan menjauh dari karunia, rahmat dan kenikmatan dan nasihat serta cahaya yang terang benderang ..  Sungguh merugi umat manusia yang seperti itu! ..  betapa sengsara apa yang dilakukan oleh manusia seperti itu;  kesengsaraan dan penderitaan, sekiranya mereka tetap berada dalam keadaan seperti itu dan tidak mau merespon seruan Allah dan Rasul-Nya…!!  “Dan Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, Maka Sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam Keadaan buta”. (Thaha:124)

 

Darah para syuhada adalah simbol kesedaran umat 

Wahai umat Islam..Janganlah kalian merasa bangga dengan darah yang mengalir di jalan untuk membela kebenaran dan melakukan perlawanan terhadap penjajahan, begitu pula dengan pengorbanan yang diberikan dalam menghentikan kerosakan moral, sosial dan ekonomi… kerana yang demikian adalah kecil di hadapan tujuan yang sangat mulia dan ganjaran yang besar.  

 

Maka dari itu, berjihad dan berjihadlah wahai umat Islam, kerana yang demikian merupakan perniagaan yang dapat menyelamatkan diri dari azab Allah, mendekat dari nikmat Allah dan mewujudkan pertolongan Allah: “Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar. Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman. (As-Shaff:10-13) 

 

Perbaikilah dirimu terlebih dahulu lalu serulah orang lain 

 

Bahawa tugas kita – sebagai umat Islam - selama di tangan ada cahaya yang terang dan sebotol ubat untuk dapat mengubati diri dan menyeru orang lain. Dan Ikhwanul Muslimin pertama kali yang dituju dalam pembinaannya adalah mendidik diri terlebih dahulu, memperbaharui ruh, memperteguh dan memperkukuh akhlaq serta menumbuhkan keberanian yang lurus dalam jiwa-jiwa umat, dan mereka meyakini bahawa hal tersebut merupakan titik awal yang akan mampu membangun kebangkitan umat dan bangsa…jika kita berhasil maka itulah yang kita inginkan, namun jika tidak maka kita serahkan seluruhnya kepada Allah dan kita telah menyampaikan risalah, menunaikan amanah, dan kita menginginkan kebaikan untuk manusia, dan kita tidak putus asa melakukan perbaikan atau berhenti dalam menyebarkan risalah Rasulullah saw sehingga tidak memiliki sama sekali pengaruh, namun dengan pengorbanan yang besar dan darah yang banyak, cukuplah bagi para pembawa risalah mendapatkan faktor-faktor keberhasilan. Dengannya mereka beriman, sehingga mengikhlaskan diri dalam berjuang dan di jalannya mereka berjihad, sementara waktu telah menunggunya dan dunia selalu memantaunya… “… Allah serta Rasul-Nya akan melihat pekerjaanmu, kemudian kamu dikembalikan kepada yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. (At-Taubah:94)

 

Dan segala puji hanya milik Allah, Tuhan semesta alam.

 

Older Posts »